Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Dilarang Mencontoh Negara Rasulullah?

Sabtu, 15 Februari 2020 | 09:20 WIB Last Updated 2020-02-15T01:20:45Z
Lorong Kata - Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD menegaskan bahwa meniru sistem pemerintahan Nabi Muhammad Saw haram hukumnya. Ia menegaskan hal itu pada Diskusi Panel Harapan Baru Dunia Islam: Meneguhkan Hubungan Indonesia-Malaysia di Gedung PBNU Kramat Raya, Jakarta, Sabtu (25/1).

Menurut Mahfud, pemerintahan Nabi Muhammad menggunakan sistem legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Semua peran itu berada dalam diri Nabi Muhammad Saw sendiri. Nabi berhak dan boleh memerankan ketiga-tiganya karena dibimbing langsung oleh Allah Swt. (nu.or.id, 25/1/2020).

Pernyataan Mahfud MD tersebut mendapatkan sorotan publik terutama dari umat Islam. Mahfud juga menjelaskan agama melarang untuk mendirikan negara seperti yang didirikan nabi. Sebab, negara yang didirikan nabi merupakan teokrasi di mana Nabi memiliki tiga kekuasaan sekaligus yaitu legislatif, yudikatif, dan eksekutif.

Sorotan salah satunya datang dari Wakil Ketua Komisi Hukum MUI Pusat Anton Tabah, mengaku heran dengan Mahfud yang tidak jera-jeranya keseleo lidah. Dia pun meminta mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu segera memperbanyak doa. “Mahfud MD sering sekali keseleo lidah,” ujar Anton Tabah saat dihubungi redaksi, Minggu (26/1). Purnawirawan jenderal bintang dua polisi itu lantas menyinggung pernyataan Mahfud yang pernah mengatakan perda syariah radikal. Berdasarkan amatannya saat masih di kepolisian, kehadiran perda-perda syariah justru membantu tugas mengatur miras dan sebagainya. (politik.rmol.id, 2020/01/26).

Pernyataan menko Polhukam bahwa haram mencontoh Negara Rasulullah adalah pernyataan berbahaya yang bisa mencederai/merusak iman seorang muslim.

Begitu juga ketika Mahfud Menyatakan bahwa umat diperintahkan mendirikan Negara Islami bukan Negara Islam. Lalu Mahfud kemudian menyebutkan bahwa Jepang dan New Zealand pun adalah negara Islami karena menerapkan nilai-nilai Islami seperti taat hukum, sportif, tepat waktu, antikorupsi, dan sifat-sifat lainnya yang diajarkan ajaran Islam. Jelas ini juga pandangan menyesatkan, yang tidak memiliki landasan dalil syar’i. Pernyataan tersebut justru adalah pandangan sekuler yang mengkerat-kerat ajaran Islam, yang pada akhirnya ajaran Islam hanya diambil berdasarkan kecocokan hawa nafsu.

Jika cocok akan diambil, jika tidak maka akan ditinggalkan bahkan diharamkan dengan alasan karena saat ini tidak ada lagi manusia sempurna seperti Rasulullah Saw. Bagaimana mungkin pernyataan pak Mahfud MD tersebut bisa dibenarkan, padahal pasca meninggalnya Rasulullah Saw, para sahabat yang mulia terus melanjutkan pemerintahan yang telah dibangun Rasulullah Saw. Sampai-sampai untuk itu, mereka sempat menunda pemakaman jenazah Rasulullah Saw, padahal segera memakamkan jenazah adalah perintah dalam Islam, apalagi ini adalah jenazah Rasulullah.

Penerapan sistem sekuler menjerat setiap muslim untuk berfikir sekuler dan menentang ketaatan sempurna pada syariat. Melalui sistem sekuler, Islam sebagai sistem hidup yang sempurna, dikebiri sehingga sekedar diambil ajaran ibadah ritualnya dan mengambil nilai-nilai ahlaqiyahnya semata. Ini jelas bertentangan dengan perintah Allah dalam surah Al Baqorah ayat 208: "“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu".

Kita perhatikan ayat ini, setelah Allah ta’ala mengajak para hamba-Nya yang beriman untuk masuk ke dalam Islam secara keseluruhan dan melaksanakan ajaran-Nya tanpa mengesampingkan ajaran yang lain, maka Allah ta’ala memperingatkan hamba-Nya agar tidak mengikuti langkah syaithan.

Perlu dipahami bahwa mencontoh/ittiba semua perilaku rasul termasuk dalam membentuk Negara Islam adalah bukti sempurnanya iman setiap muslim. Allah sendirilah yang telah memerintahkan kepada seluruh umat Islam yang beriman kepada risalah Nabi Muhammad Saw agar menjadikan beliau sebagai suri tauladan. Hal ini termaktub dalam surah Al Ahzab ayat 21: "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah". Dalam tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat yang mulia ini merupakan dalil pokok yang paling besar, yang menganjurkan kepada kita agar meniru Rasulullah Saw. dalam semua ucapan, perbuatan, dan sepak terjangnya.

Dalam surah yang lain Allah berfirman: "Maka demi Tuhan-mu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

[an Nisaa’ : 65]. Diantara ciri-ciri orang yang beriman, mereka tidak merasa keberatan (kesempitan) terhadap apa yang telah ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menerima keputusan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan lapang dada. Wallahu 'alam bishowwab

Penulis: Ummu Salman (IRT)
×
Berita Terbaru Update