Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Layakkah Agama Dijadikan Sebagai Musuh?

Jumat, 21 Februari 2020 | 19:27 WIB Last Updated 2020-02-21T11:27:03Z
Melisa (Aktivis Back to Muslim Identity)
Lorong Kata - Akhir-akhir ini begitu banyak narasi yang disampaikan para petinggi negeri ini yang memunculkan kotroversi. Penyebarannya yang masif akan sangat tidak menarik apabila telah menunjuk kelompok-kelompok tertentu. Sebab bukan hanya menyudutkan, tapi akan membangun framing negatif yang menjamur bagi mereka yang awam.

Seperti yang dilansir voa-islam.com, Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi yang tengah menjadi sorotan publik terkait pernyataannya soal agama adalah musuh terbesar Pancasila. Namun Yudian menyampaikan sedikit klarifikasi soal pernyataannya tersebut, bahwa yang dimaksud adalah bukan agama secara keseluruhan tapi mereka yang mempertentangkan agama dengan Pancasila. Karena, menurutnya dari segi sumber dan tujuannya Pancasila itu religious dan agamais.

Lebih lanjut Yudian menegaskan yang dia kritik adalah orang beragama yang menggunakan agama atas nama mayoritas padahal sebelumnya mereka minoritas. Mereka membenturkan agama yang mereka klaim dengan pancasila dan jika ini dibiarkan berarti agama akan menjadi musuh terbesar. Pernyataan ini ternyata mendapat pembelaan dari Moeldoko selaku kepala staff presiden.

Seiring dengan munculnya pernyataan menohok dari ketua BPIP, hadir pula tokoh “penting” disertai singgungan halus yang ikut meramaikan kritik tanpa saran. Yakni wakil presiden Ma’ruf Amin seperti dikutip oleh mediaindonesia.com. Beliau mengatakan khatib harus bersertifikat dan memiliki komitmen kebangsaan karena posisinya sebagai penceramah akan berpengaruh pada cara berfikir, bersikap dan bertindak dari umat Islam. Wapres Ma’ruf juga menekankan ceramah agama yang disampaikan para khatib disetiap ibadah sholat jum’at harus memuat nilai-nilai pancasila dan prinsip NKRI.

Tidak hanya menyinggung terkait khotbah jum’at yang harus bersertifikat dengan standar tidak menimbulkan perpecahan, beliau juga mempertegas bahwa tak ada sistem lain selain NKRI karena Indonesia telah menyepakati pancasila sebagai ideologi bangsa. Oleh sebab itu, khilafah pun juga akan tertolak di Indonesia.

Namun tampaknya ini bukan hal aneh, melihat kejadian serupa terus berulang disetiap momen berbeda. Fenomena tentang kerusakan di sistem sekuler hari ini sepertinya juga kembali mengingatkan tentang pertarungan pemikiran yang dimulai sejak awal Rasulullah diutus sebagai Nabi hingga menjadi pemimpin negara di Madinah.

Mereka selaku penguasa yang mengatakan bahwa agama adalah musuh terbesar telah menjadi argumen fatal. Tidak ada keraguan sedikitpun, bahwa memang penguasa negeri kaum muslim telah menampakkan ide kufurnya. Bukannya masyarakat disuguhi solusi tuntas dengan segala polemik seperti kemiskinan, kesehatan yang semakin mahal, angka pengangguran yang terus meningkat, kebutuhan pokok yang harganya meroket tajam dan lain sebagainya, justru pemerintah nampak acuh dan malah sibuk bermain api dengan syariat Allah. Belum cukup dengan mengadopsi sistem kufur, mereka pun tak hentinya membuat makar, mendzolimi kaum muslim, dan mendiskreditkan ajaran Islam.

Penolakan mereka terhadap khilafah juga menciptakan banyak tanya. Salah satunya saat mereka mengaku muslim, tapi mengapa menganggap konstitusi lebih tinggi dari kitab suci? Sepertinya kedudukan mereka butuh goncangan, dengan harapan bahwa kepercayaan umat perlahan sirnah. Dalam hal ini, kaum muslim dituntut agar tidak meninggalkan kewajibannya dalam melakukan amar makruf nahi mungkar.

Seperti dalam hadis Rasulullah, hendaklah kalian melakukan amar makruf nahi mungkar. Kalau tidak, Allah akan menjadikan orang-orang yang paling jahat diantara kalian berkuasa atas kalian… (HR. Ahmad)

Dari kejadian ini harusnya lebih mengukuhkan kepada kita semua terkait dampak yang akan terjadi saat Islam menjadi agama ritual yang terpisah dari kehidupan publik. Sekali lagi kita bandingkan dengan apa yang pernah terjadi 1300 tahun yang lalu ketika Islam berhasil membangun negara yang tentram. Ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan sektor-sektor lainnya mendapat jaminan penuh oleh negara kepada rakyat. Tidak hanya itu, negara juga mengarahkan dan memberi motivasi bahkan melatih jihad. Karena itu Islam pernah memiliki tentara keren seperti pasukan Shalahuddin Yusuf yang mengusir tentara Richard dari Palestina, pasukan Rukhnuddin Baybars yang mengusir bala tentara Mongol dari Ain Jalut dan pasukan Khairuddin Barbarosa yang menghalau serdadu Spanyol dari laut tengah.

Tidakkah terbersit bahwa kita bisa kembali? Karena kenyataannya memang pernah bisa, belum lagi disertai keyakinan akan pertolongan Allah. Namun yang bisa mengembalikan dunia kembali tenteram, yang bisa mengembalikan tentara-tentara Allah, serta menghilangkan kedzoliman dan kekufuran hanya ketika Islam sebagai din yang sempurna dijadikan ideologi dalam bernegara. Bukannya memupuk sekularisme yang nyata menjauhkan Islam dari poros hidup manusia sebagai hamba.

Penulis: Melisa (Aktivis Back to Muslim Identity)
×
Berita Terbaru Update