Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Corona Dan Keresahan Internasional

Selasa, 31 Maret 2020 | 11:26 WIB Last Updated 2020-03-31T03:32:23Z
Ikbal Tehuayo
Lorong Kata - Mutakhir ini, virus corona (covid-19) menempati klasmen puncak dalam daftar isu publik yang meresahkan dataran dunia.

Ketakutan dan kegelisahan datang dari berbagai arah menghantarkan berita kejamnya virus corona menyantap umat manusia.

Ketakutan akan terpaparnya virus corona adalah wajar, sebab catatan sejara telah menginformasikan kepada kita bahwa, penyakit menular lebih kejam dari perang dunia pertama, sebab dalam waktu yang singkat, ia dapat membunuh jutaan manusia.

Pada perang dunia pertama, tercatat dari tahun 1914 sampai 1918 hanya membunuh 40 puluh juta jiwa, sementara flu Spanyol pada saat itu dapat membunuh 50 hingga 100 juta jiwa dalam waktu kurang dari satu tahun.

Keterangan sejarah inilah yang membuat masyarakat internasional tidak melihat virus corona sebagai problem recehan.

Keseriusan menangani wabah corona terlihat pada pengiriman bantuan sembilan pesawat militer Rusia yang akan membawa ratusan pakar virus dan petugas medis ke Italia.Dan, bantuan tersebut telah disetujui oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin dan Perdana Menteri Italia, Giuseppe Conte.

Dari Jerman, Angela Merkel (65), memberlakukan larangan berkumpul lebih dari dua orang di seluruh negeri untuk menekan penyebaran virus corona.

Seperti dilansir CNN, Senin (23/3/2020), langkah itu diambil Merkel karena dianggap lebih tepat ketimbang harus melakukan penutupan total (lockdown). Dia mengatakan pemerintah akan berusaha sekuat tenaga untuk membatasi pergerakan dan kontak antara penduduk untuk sementara, demi mencegah penyebaran virus corona.

Amerika Serikat pun tak hanya diam melihat masalah ini.Baru-baru ini, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengirimkan surat kepada Pimpinan Tertinggi Korea Utara, Kim Jong-Un di tengah merebaknya penyebaran virus corona di seluruh dunia.

Dalam suratnya pada Minggu (22/3/2020), Trump membeberkan rencana pemerintah AS untuk memerangi penyebaran Covid-19. Selain itu, ia juga memberikan tawaran bantuan bagi Korea Utara untuk mencegah penyebaran virus corona.

Sebagai warga dunia, tak salah bila tindakan antisipasi penyebaran virus kita lakukan dengan apa yang telah di contohkan oleh negara-negara yang rakyatnya banyak menjadi korban, seperti halnya Italia, Amerika dan china.

Dalam hal mencegah kecepatan penyebaran virus corona, Kapolri Jenderal Idham Azis menginstruksikan seluruh personelnya untuk menindak tegas seluruh masyarakat yang masih mengadakan kegiatan yang melibatkan banyak orang.

Selain itu, Masa Darurat Corona Diperpanjang hingga Hari Raya Idul Fitri, hal itu berdasarkan pada surat keputusan kepala BNPB Nomor 13.A tahun 2020. Keputusan ini tentu tidak diterima semua kalangan masyarakat, sebab tak semua masyarakat merasa terancam akan virus corona.

Secara nyata kita bisa saksikan dari berbagai bantahan-bantahan argumen yang menunjukan tidak setujunya sebagian masyarakat akan berbagai keputusan pemerintah

Sebagian rakyat kita justru merasa terancam bila aktivitas untuk mencari nafkah di hentikan, oleh sebab itu, keputusan negara harus mempertimbangkan aspek ekonomi masyarakat yang kurang mampu, sehingga mereka pun bisa mengikuti kebijakan yang telah diputuskan oleh pemerintah.

Selain memproduksi keresahan sosial, dan ekonomi, wabah corona pun menciptakan keresahan ritual.

Dalam warta internasional bisa kita lihat, Masjid Al Aqsa di Yerusalem pun ditutup untuk sementara waktu bagi pengunjung dan jemaah demi mencegah penyebaran virus corona atau COVID-19. Ribuan jamaah umroh yang hendak ke tanah suci dibatalkan.

Dari tanah air, pemerintah pusat hingga pemerintah daerah menghimbaukan agar sholatlah di rumah masing-masing. Keresahan ini juga mengakibatkan pelaksanaan salat dengan cara mengambil spasi berjarak satu meter antara jamaah satu dengan jamaah yang lain.

Panik, takut, bahkan cemas adalah sifat alamiah manusia, tapi, ketika hal itu berlebihan maka akan mengganggu fungsi otak untuk berfikir sempurna, hingga berakibat pada tindakan yang konyol.

Barbara Brown dalam bukunya, supermind (pikiran unggul) mengajak kita untuk tidak mempersepsikan suatu kejadian secara stressful, karena dengan itulah kita sendiri yang mebuat stres pada diri sendiri, bukan faktor dari luar diri kita.

Apa yang diucapkan Brown terlihat pada realita hari ini, yaitu, tidak semua orang mempunyai skor ketakutan yang sama atas isu virus corona, hal itu kembali pada induvidu untuk mempersepsikannya.

Baru-baru ini, Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdulla, mengumumkan dua warga Sulsel positif terpapar virus corona, hal ini tentu mengganggu ketenagan pikiran publik dan membuat mereka merasa gelisah dan terus dalam kondisi waspada.

Terlihat secara nyata dalam ruang-ruang ibadah, budaya menjabat tangan pun seketika hilang, dikarenakan tingkat kewaspadaan berubah menjadi curiga kepada orang yang ada di sampingnya.

Tentu kita berhak buat simulasi dalam kepala bahwa, Kecemasan yang lahir dari pikiran publik tanpa sadar di bentuk oleh media yang kurang edukatif, sebab yang disodorkan terus menerus di ruang publik adalah statistik jumlah kematian dan gambar-gambar manusia yang mati akibat terserang virus corona, berita semacam itu tentu mengganggu ketenangan psikologi publik.

Noam Chomsky, ahli bahasa Amerika, ia perna berkata, kita memandang dunia melalui media masa, dan media masa dikendalikan oleh 2 kelompok besar, yaitu, kelompok kepentingan yang berkuasa dan kepentingan bisnis.

Secara tidak sadar, keputusan yang kita ambil sendiri adalah petunjuk dari media massa.

Tentu kita tidak menyatakan secara tegas bahwa virus corona adalah  kebohongan, sebab realita menunjukan adanya kematian akibat terpapar virus corona.

Tapi, yang perlu disadari adalah upaya untuk menyebar berita yang terus menerus menampilkan angka kematian perlu di kurangi, karena hal itu akan berpotensi menciptakan katakutan dalam masyarakat, dan ketakutan yang terus menerus di konsumsi ole publik maka hal itu akan berpotensi menggangu psikologi, dan bila hal itu terjadi, maka kita sedang memproduksi masalah diatas masalah.

Kita bisa berkaca pada pemerintahan Korea utara yang tidak membuka data penyebaran virus corona, tapi upaya pencegahan terus berlangsung, hal ini dilakukan agar masyarakat tidak terus menerus dihantui badai ketakutan yang di produksi oleh media.

Tentu semua negara punya harapan masa depan dengan terus merawat kesehatan publik, oleh sebab itu dalam kondisi semacam ini dibutuhkan ketokohan seseorang yang di yakini publik mempunyai tingkat keilmuan dan tak ternoda moralnya untuk mengucapkan satu himbauan yang bermakna, yang di dalamnya terdapat pertimbangan yang lengkap akan kemaslahatan manusia, sebab ketokohan pada kondisi semacam ini tidak di tentukan oleh ratusan jabatan yang  diduduki.

Bagi sebagian besar masyarakat, himbauan pemerintah tidak dapat di percaya, sebab bagi mereka yang patut didengr adalah pemerintahan yang tak tergores kebenarannya dan konsisten atas keputusannya

Tidak konsistennya pemerintahan dalam upaya untuk mencegah wabah corona ini bisa dilihat pada bandara-bandara maupun pelabuhan-pelabuhan belum semuanya di tutup, hal ini berpotensi distribusi virus antar daerah berjalan dengan cepat.

Selain itu, bisa kita saksikan dari permintaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) kepada pemerinta agar segera memenuhi alat pelindung diri (APD)  bagi tenaga medis yang bertugas menangani pasien yang terpapar wabah corona. Dari peristiwa ini orang bisa berpikir bahwa, himbauwan pemerintah dalam menagani dan mencegah wabah corona tidak disertai dengan memperhatikan keselamatan tenaga medis (dokter).

Bila himbaun terus di dengungkan, dan tenaga medis tidak di perhitungkan keselamatannya, maka hal ini adalah ancaman paling mematikan buat bangsa kita dalam menghadapi persoalan-persoalan seperti ini di kemudian hari, mengingat bahwa, jumlah dokter kita masi jauh dari standar internasional untuk menciptakan kesehatan publik yang efektif.

Oleh sebab itu, dalam kasus semacam ini, publik membutuhkan pemimpin dengan kelengkapan pengetahuan dan dan bijaksana, untuk mempertimbangkan Secara lengkap suatu kebijakan yang hendak ia putuskan, sehingga keputusan itu tidak menimbulkan keresahan diatas keresahan.

Selain dapat meciptkan kebijakan yang pro terhadap rakyat dalam konsi darurat seperti sekarang ini, pemimpin dengan kelengkapan pengetahuan juga dapat memprediksi keadan ekonomi yang memburuk saat wabah corona telah musnah, sehingga dia dapat menghitung dan menyiapkan bagaimana rakyatnya harus hidup dalam tekanan atau krisis ekonomi global yang merupakan akibat dari matinya hubungan internasional

Penulis: Ikbal Tehuayo

Tonton Juga

×
Berita Terbaru Update