Hiburan Malam di Tengah Corona Yang Mengamcam

Lorong Kata - Dilansir dari vivanews.com (19/3/2020), tempat hiburan malam masih buka walau sudah dihimbau larangan dari keramaian karena virus corona. Namun, hampir 50% tempat hiburan malam di Tamansari, Jakarta Barat masih buka.

Camat Tamansari, Risan H Mustar telah memberi himbauan pada tempat hiburan malam di kawasan tersebut.

"Namun, kembali lagi alasan mereka karena perut. Kalau tutup, mereka mengaku bingung mendapatkan pemasukan dari mana lagi," ucap Risan pada Rabu (18/3/2020).

Demikianlah yang terjadi di negeri ini. Bahkan mungkin saja tidak hanya di daerah Jakarta Barat. Tempat hiburan bisa saja tetap buka di daerah-daerah lainnya. Hanya karena alasan perut.

Pada faktanya, memenuhi kebutuhan perut di negeri ini sangatlah susah. Susah cari pekerjaan bukanlah hal yang baru. Bahkan yang sudah kerja pun ada pula yang masih kekurangan memenuhi kebutuhan hidupnya. Sehingga sebagian besar waktunya dihabiskan diluar, bukan untuk keluarganya.

Tidak hanya itu. Dengan alasan sulitnya mencari pekerjaan, ada pula yang terpaksa melakukan perbuatan haram untuk memenuhi isi perut. Bahkan ada yang melakukan pekerjaan haram, contohnya di hiburan malam.

Inilah akibat dari sulitnya memenuhi isi perut dan memenuhi kebutuhan hidup rakyat yang lain. Apapun dilakukan, asal terpenuhi kebutuhan hidupnya.

Semua aturan dilanggar. Aturan dari Tuhannya pun dilanggar, untuk tidak bekerja dengan pekerjaan haram. Apalagi larangan menutup tempat hiburan malam akibat virus corona. Sudah pasti dilanggar. Karena kebutuhan perut dan hidupnya belum terpenuhi.

Awal dari seluruh permasalahan ini karena kebijakan pemerintah yang selama ini tidak mensejahterakan seluruh rakyat. Terutama kebijakan dalam bidang ekonomi.

Kebijakan ekonomi saat ini menyengsarakan rakyat. Dari kebijakan membayar pajak, listrik, PDAM, dan lain sebagainya. Semua ditanggung rakyat. Belum lagi bahan pokok, sandang, papan dan kesehatan. Semua ditanggung sendiri.

Bahkan, ada juga yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Untuk makan saja susah, apalagi kebutuhan pokok yang lain.

Sehingga wajar, lockdown adalah hal yang sangat sulit diterapkan. Karena rakyat sangat kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya. Akan tetapi, dampaknya juga sangat berbahaya jika rakyat tidak mau lockdown. Virus corona akan semakin mengganas dan pemerintah juga akan sangat kesulitan mengatasi pandemi virus corona ini.

Kembali lagi, ini semua karena kebijakan pemerintah. Dan kebijakan pemerintah ini adalah hasil dari sistem demokrasi yang mengatasnamakan rakyat.

Bagaimana tidak, sistem demokrasi melegalkan menjual aset negara, jual sumber daya alam ke asing dan swasta, dan seabrek kebijakan buruk lainnya yang menyengsarakan rakyat. Karena demokrasi berasas kapitalisme sekuler.

Jika pemerintah mampu memenuhi seluruh kebutuhan hidup rakyat, dan makanan seluruh rakyat terpenuhi selama virus corona muncul, maka lockdown akan mudah diterapkan.

Akan tetapi, sejauh ini hanya sistem Islam lah yang mampu memenuhi kebutuhan rakyat. Karena dalam sistem Islam, sumber daya alam dikelola sendiri, bahkan aset negara seperti emas dan perak akan dikelola sendiri oleh negara. Bukan asing.

Hanya sistem Islam-lah yang mampu mencegah pandemi virus corona sekaligus berusaha menyembuhkan rakyat dengan pengobatan gratis namun berkualitas.

Selain itu, sistem Islam membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya, dan menutup tempat kerja dan pekerjaan yang haram. Sehingga rakyat tidak perlu bekerja dengan pekerjaan haram dan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, termasuk kebutuhan perut. Rakyat tidak perlu membayar pajak, namun rakyat mendapatkan fasilitas yang baik dari negara. Wallahu a'lam bish-shawab.

Penulis: Al Azizy Revolusi (Aktivis Media Sosial)