Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Sistem Liberal Melahirkan Generasi Rusak

Senin, 23 Maret 2020 | 16:44 WIB Last Updated 2020-03-23T08:44:43Z
Lorong Kata - Seorang remaja perempuan berusia 15 tahun mengaku telah membunuh bocah perempuan berusia 5 tahun di rumahnya di kawasan Sawah Besar, Jakarta Pusat. Pelaku menyerahkan diri setelah membunuh bocah perempuan ini.

Kapolres Jakarta Pusat kombes Heru Novianto menyebut pelaku tak menyesali perbuatannya, justru merasakan kepuasan. "ini agak sedikit unik, si pelaku dengan sadar diri menyatakan telah membunuh. Kemudian menyatakan Saya tidak menyesal tapi saya merasa puas,” kata kombes Heru pada wartawan di lokasi kejadian, sawah Besar, jakpus jumat (6/3/2020).

Aksi pembunuhan terhadap bocah perempuan 5 tahun hari ini pun terbongkar. Di rumah pelaku di Sawah Besar, Jakarta Pusat. Melakukan pembunuhan pada Kamis(5/3/20) sore hari saat rumah dalam kondisi sepi.

Pelaku awalnya menenggelamkan kepala korban dalam bak berisi air. Lalu jasad korban dibawa ke kamar lantai atas dan disembunyikan di dalam lemari pakaian. Pada hari Jumat 6/3/20 pelaku berencana membuang jasad korban sambil berangkat sekolah. Namun pelaku kebingungan dan akhirnya menyerahkan diri ke Polsek Tamansari.

Dalam olah TKP di rumah pelaku ditemukan gambar dan curhatan pelaku pembunuhan bocah di dalam lemari ini. Menurut polisi pelaku merupakan anak yang cukup cerdas kemampuan bahasa Inggris cukup baik. Miris dan tidak bisa di ungkapkan dengan kata kata lagi melihat apa yang di lakukan oleh seorang remaja 15 tahun ini. Seperti tak percaya dengan apa yang sudah di lakukannya, membunuh sahabatnya yang usianya bahkan jauh di bawahnya, dengan tangannya sendiri.

Namun jika ditelusuri lebih jauh motif dari pembunuhan itu adalah karena hasrat yang muncul dengan seketika, ini aneh. Tapi, hasrat itu tidak akan muncul seketika dengan sendirinya, jika tidak ada faktor pemicu dari luar. Ternyata menurut pengakuannya pelaku adalah penggemar film horor, salah satu tokoh favoritnya adalah Chucky dan Slender man.

Chucky adalah karakter arwah pembunuh berantai yang masuk kedalam tubuh boneka. Sedangkan slender man adalah karakter supranatural fiksi yang digambarkan dengan sosok kurus tinggi dengan kepala tanpa wajah. Ketika kebiasaan dan kesukaan pada tokoh terntentu ini semakin kuat dan di tonton setiap hari akan menacap pada pemikirannya.dan ini akan mempengaruhi kejiwaanya.

Inilah hal yang disuguhkan oleh sistem hari ini. Kasus ini seharusnya bisa membuka mata kita bahwa di era digital saat ini kita semua khususnya remaja diserang dengan berbagai tayangan sampah yang mempromosikan sadisme, tanpa sensor smartphone. Seperti ini ternyata bisa membawa pengaruh buruk pada kejiwaan anak, namun semua tayangan yang menjadi tontonan untuk anak tidak ada filter yang serius.

Sistem kapitalisme liberal menjadikan media hanya untuk mendulang dollar segala bentuk tayangan, walaupun itu berkonten kekerasan. Pada hal ini akan berdampak buruk pada generasi. Hal inilah yang menjadi alasan sulitnya gmelindungi generasi dari paparan konten kekerasan baik televisi, internet, games dan lain-lain.

Faktor lain, melihat latar belakang keluarga pelaku yang broken home, dengan keadaan ini pula besar kemungkinan berdampak pada perkembangan jiwanya. Keluargalah ujung tombak dari pembentukan karakter anak. Ketika ayah ibunya berpisah atau bercerai dan mengabaikan kondisi anak membuat si anak stress dan menyalurkannya ke arah yang salah. Dan kenyataannya perceraian di negara ini cukup tinggi dan membuktikan bahwa keluarga kita sangat rapuh. Kasus ini hanya satu dari banyak kasus lain yang terjadi dari rusaknya generasi kita hari ini.

Islam adalah sebuah agama yang sempurna. Aturannya menyeluruh dan istimewa. Bukan sekedar aturan dengan Tuhannya, namun mencakup keseluruhan. Aturan dengan Tuhannya, aturan dengan orang lain dan aturan dengan dirinya sendiri. Islam memiliki cara yang khusus lindungi generasi mudanya. Karena generasi muda adalah sosok penerus para orang tua, penerus bangsa, dan penerus peradaban.

Pertama. Pembinaan individu. Untuk mewujudkan ketakwaan individu dibutuhkan peran orang tua untuk membina individu dan keimanan yang kuat pada anak dan generasi. Orang tua menjadi contoh dan teladan bagi anak-anaknya. Terkhusus para ibu, merekalah madrasah pertama bagi anak, mereka harus menjadi pemoles pondasi utama karakter pada anak, mengenalkan tentang TuhanNya, membiasakan taat pada syariatnya, dan lain sebagainya.

Peran ayah pun tak jauh lebih penting dari ibu, meski sibuk diluar untuk mencari rejeki, harus tetap mempunyai prioritas waktu yang cukup untuk keluarga dan anak anaknya, tetap memberikan perhatian untuk anak meski tugas utama adalah ibu. Dengan peran keluarga inti yang bersinergi mencurahkan kasih sayang dan tempat berkeluh kesah anak akan membantu perkembangan baik pada jiwanya.

Kedua, kontrol masyarakat. Akan terwujud apabila masyarakat sudah memiliki pandangan yang sama, opini tentang hal mana yang baik dan buruk. Kontrol masyarakat sangat berperan penting jika masing masing masyarakat menempatkan diri mereka sebagai bagian dari keluarga dan saudara.

Ketiga kontrol Negara. Dari adanya ketiga kontrol tersebut, ditambah kekuatan iman yang telah terbentuk sejak dini akan menghasilkan dan melahirkan generasi generasi yang tangguh. wallahualambisshawab

Penulis: Sulastri
×
Berita Terbaru Update