Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Kabar Gembira Dari Negeri Tetangga, Apa Kabar Negeri Enam Dua?

Selasa, 28 April 2020 | 14:12 WIB Last Updated 2020-04-28T06:12:09Z
LorongKa.com - Dalam rangka mencegah dan menghentikan penyebaran Covid-19, setiap negara menerapkan kebijakannya masing-masing. Dan diantaranya, ada yang mengambil tindakan karantina kesehatan atau lockdown. Dimana masyarakat di daerah yang terjangkit wabah, dipaksa untuk diam di rumah, dengan aturan disiplin yang ketat.

Namun semua itu dilakukan agar negara mereka bisa selamat. Di antara negara yang menerapkan lockdown adalah Malaysia, China, India, Vietnam, Ghana, USA, Italy dan lain-lain. Sementara pemerintah Indonesia tegas menyatakan tidak akan mengambil tindakan lockdown. Demi mempertahankan sektor ekonomi agar bisa terus berjalan. Bahkan presiden Jokowi pernah mempertanyakan, sebutkan contoh negara mana yang berhasil mengatasi corona dengan lockdown?

Pemberlakuan lockdown memang tidak serta merta berhasil menghentikan wabah di sebuah wilayah. Karena tingkat keberhasilannya tergantung dengan aturan pelaksanaan, serta kedisiplinan warganya. Bagaimana pula keseriusan negara dalam menanggung apapun konsekuensi yang akan terjadi.

Namun baru-baru ini kita dibuat terkejut sekaligus salut, mendengar berita gembira dari Vietnam. Negara itu telah menarik perhatian dunia, karena keberhasilannya dalam mengatasi wabah corona. Disaat negara lainnya masih bergulat hebat dengan pandemi ini, Hanoi mengakhiri masa pembatasan sosial atau lockdown yang sudah dilaksanakan sejak awal April lalu, dengan mencatat 0% pasien meninggal. Jumat, 24 April 2020. Sejumlah fasilitas publik dan sekolah mulai dibuka kembali.

Hal itu cukup mengejutkan, mengingat letak geografis Vietnam yang berbatasan langsung dengan China. Sehingga besar kemungkinan negara itu menjadi sasaran empuk serangan wabah corona yang berasal dari Wuhan, China. Vietnam juga bukan termasuk negara maju, yang mana secara pendanaan juga pas-pasan, fasilitas kesehatan juga belum begitu sempurna. Lantas faktor apa yang menjadi sebab keberhasilan lockdown di negara tersebut? Melansir dari Liputan6.com, 24/4/2020, menurut kesaksian dari Duta Besar Indonesia untuk Vietnam, Ibnu Hadi bahwa pemerintah setempat berhasil merespon dengan cepat, sehingga kedatangan virus bisa dibendung.

Sejak awal, saat virus corona masih menjadi epidemi di dalam negara China, pemerintah tidak meremehkannya, dan langsung melakukan tindakan pencegahan. Perdana Menteri Nguyen Xuan Phuc berpidato dalam pertemuan Parlemen Komunis yang berkuasa di sana, menyatakan bahwa menghadapi corona ini sama halnya perang melawan musuh, yang akan merusak tatanan negara. Sikap ini sangat mempengaruhi pada tindakan selanjutnya. Masyarakat dipersiapkan mentalnya, seperti sedang menghadapi kondisi perang yang sebenarnya. Kemudian pemerintah mengambil tindakan, menutup semua penerbangan ke China meskipun harus mengalami kerugian besar secara finansial.

Di Vietnam pemerintah berani mengungkap identitas pasien yang terinfeksi virus corona (nama, alamatnya, tempat-tempat yang didatangi). Pemerintah melakukan penelusuran kontak, orang-orang yang berhubungan dengan pasien. Tapi, sambil mengkarantina penduduknya demi mencegah virus menyebar.

Pemerintah menjadi sentralitas, sehingga kebijakan penguasa tertinggi langsung dilaksanakan bawahannya, dan rakyat pasti akan mematuhinya. Meskipun sistem karantinanya terbilang sangat keras, rakyat benar-benar tak bisa kemana-mana, pasar, kafe, sekolah ditutup sehingga ekonomi menjadi merosot jatuh. Tak ada mobilisasi warga, karena setiap perbatasan dijaga ketat oleh milisi setempat. Otoritas negara memang dianggap segalanya di negara bersistem sosialis, rupanya kepatuhan ini sangat berguna untuk menangani wabah corona. Tapi kunci utamanya adalah antara pemerintah dan rakyatnya saling bersinergi. Bisa bekerjasama menghadapi pandemi, pemerintahnya terorganisir dan rakyat pun mematuhi.

Kabar gembira lainnya juga datang dari Malaysia, pemerintah melaporkan kebijakan lockdown di negara tersebut telah berhasil menghambat virus Covid-19. Kementerian Kesehatan Malaysia melaporkan berdasarkan informasi CPRC kebangsaan, mencatat terhitung Minggu, 26 April 2020 tidak ada kasus kematian akibat Covid-19. KKM mengambil langkah-langkah pendeteksian, penyaringan, pengujian, isolasi serta perawatan terutama pada kelompok yang beresiko tinggi. Seperti pendeteksian di madrasah atau sekolah tahfiz, dan menyediakan tempat karantina khusus untuk warga Malaysia yang baru pulang dari luar negeri. Era muslim, Senin (27/4/2020).

Menengok kondisi di dalam negeri, melansir dari Johns Hopkins University, Indonesia tercatat sebagai negara dengan tingkat kematian tertinggi di Asia, yakni sekitar 8-9%. Hal ini disebabkan berbagai faktor termasuk kesehatan umum yang buruk dan kesenjangan dalam sistem kesehatan. Selain itu menurut ahli epidemiologi dari UI Dr.Pandu Riono, banyak faktor yang menjadi penyebab kematian pasien corona, mulai usia sampai kondisi kesehatan yang melatarbelakangi. Faktanya bahwa 75% laki-laki di Indonesia adalah perokok aktif. Namun, kebijakan pemerintah yang tidak tegas dalam mengambil tindakan. Dan hanya memberikan himbauan, cuci tangan, jaga jarak dan jaga kesehatan. Sementara aturan yang diterapkan malah membingungkan rakyatnya.

Misalnya, menghimbau masyarakat diam di rumah atau Stay At Home, tapi tidak menjamin kebutuhan mereka terutama bagi yang tak berpenghasilan. Melarang aktifitas mudik menjelang lebaran, sementara ratusan orang dibiarkan pulang ke kampung halaman. Memberikan stimulus untuk rakyat yang membutuhkan tapi dengan aturan yang berbelit dan terbatas jangkauannya. Malah banyak warga yang berhak menerima justru tidak mendapatkan bantuan. Lebih anehnya lagi melarang maskapai penerbangan domestik mengangkut penumpang, tapi maskapai internasional diijinkan. Setiap kebijakan yang diambil seolah hanya memikirkan keuntungan, dan ekonomi saja, bukan demi keselamatan nyawa rakyatnya.

Keberhasilan negara-negara yang menerapkan kebijakan lockdown, membuktikan bahwa sistem karantina yang dulu diperkenalkan Rasulullah Shalallahu dalam menghadapi pandemi benar-benar terbukti. Seperti yang pernah dirilis oleh sebuah laporan media Amerika "Newsweek", dimana penulisnya Dr. Craig Considine mengatakan bahwa Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasalam adalah orang pertama yang menyarankan karantina kesehatan (lockdown) dan kebersihan diri dalam kasus pandemi.

Seharusnya Indonesia sebagai negeri yang mayoritas penduduknya muslim, lebih meyakini bahwa lockdown merupakan satu-satunya solusi yang diperintahkan Nabi, dalam menghadapi pandemi sejak 1400 tahun silam. Alasan bahwa rakyat Indonesia sulit diatur untuk menjaga kedisiplinan apabila lockdown diterapkan, semestinya bisa diatasi jika pemerintahnya benar-benar mengkoordinir. Karena hakikatnya bagi orang Islam, mematuhi kebijakan lockdown dengan diam di rumah adalah bagian dari ibadah. Bukan semata demi kesehatan dan keselamatan jiwa. Tapi lebih sebagai bentuk ketaatan terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya.

Diriwayatkan oleh Aisyah Radiyallahu Anha, Nabi Shalallahu alaihi wasalam bersabda : "Wabah penyakit adalah sejenis siksa (azab) yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorang pun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." (HR. Bukhari, An-Nasa'i, dan Ahmad)

Wallahu a'lam bishawab

Penulis: Dini Azra
×
Berita Terbaru Update