-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bisnis Pemurtadan Online Kian Marak: Biarlah! Agama Itu Ranah Privasi

Rabu, 29 Juli 2020 | 08:33 WIB Last Updated 2020-07-29T00:33:40Z
Ratna Mustika Pertiwi, S.Pt (Pegiat Literasi)
LorongKa.com - Upaya pemurtadan di Indonesia yang dilakukan oleh misionaris, memang sudah bukan menjadi rahasia lagi. Pasalnya, upaya ini sudah digalakkan sejak lama dengan menggunakan berbagai media, baik langsung maupun tidak langsung. Sebut saja agenda-agenda seperti paskah yang mengajak anak-anak kaum muslim bermain bersama di gereja untuk mewarnai telur atau topi santa claus yang wajib dipakai saat 25 Desember untuk memperingati natal. Instansipun tidak memandang agama yang dianut karyawannya, karena hal tersebut dianggap sebagai sesuatu yang wajar serta menyimbolkan toleransi beragama.

Tidak hanya itu, upaya memberikan sembako kepada masyarakat miskin oleh oknum-oknum misionarispun juga masih marak sampai sekarang. Sayangnya, hal ini disambut baik oleh masyarakat karena memang ekonomi kapitalis yang menyulitkan kehidupan. Kejamnya lagi negara tidak peduli, entah nanti masyarakatnya akan tetap berjalan diatas akidah islam atau beralih ke agama lain, karena sekali lagi agama atau kepercayaan dianggap sebagai ranah yang sangat privat.

Baru-baru ini juga viral didunia social media khususnya podcast dan Youtube tentang bisnis online pemurtadan bernama isa dan islam. Website ini sebenarnya sudah dibangun sejak lama, bahkan sudah banyak situs islam semisal republika, tarbiyah.net, voa islam serta media ummat mengulas hal tersebut. Bahayanya lagi, mereka menggunakan dalil-dalil Al-Quran untuk menjerumuskan masyarakat kepada kebenaran bahwa Nabi Isa adalah Tuhan.

Ayat-ayat Al-Qur’an dikutip sembrono, dicocok-cocokkan dengan pembahasan yang mereka inginkan untuk memurtadkan kaum muslimin. Mereka berusaha menjadikan ayat Al-Quran sebagai jembatan untuk membenarkan ajaran nasrani yang mereka bawa. Semisal saja website Isa dan Islam berani mengangkat pembahasan "Shiratal Mustaqim" dengan judul "The Way", namun isi artikel tersebut berusaha membolak-balikkan pemikiran kaum muslimin dengan pertanyaan, Apakah anda bisa menjamin bahwa Allah SWT menjaga keaslian Al-Quran sampai hari kiamat tanpa sebuah bukti? Kemudian mereka menjawab soal tersebut dengan bukti bahwa Isa Al-Masih menjaga keaslian injil selama-lamanya dengan mengutip Kitab Nabi Besar Yesaya (40:8).

Pertanyaan-pertanyaan soal akidah yang meminta bukti kasat mata ini memang sangat berbahaya bagi kaum muslimin yang tidak memahami islam. Karena sejatinya pembahasan tentang sesuatu yang ghaib semisal adanya zat Allah, neraka, surga, syaitan, malaikat dan lain sebagainya tidak bisa dibuktikan dengan mata telanjang, namun hanya bisa dipercaya lewat keimanan, karena sejatinya kita telah mengindera zat Allah dari apa-apa yang Dia ciptakan. Yakni meliputi manusia, alam semesta dan kehidupan yang jelas bisa diindera manusia. Darisinilah kita harus memahami bahwa Allah tidak hanya menciptakan sesuatu yang nampak tetapi yang tidak nampak pula, sehingga sikap sebagai muslim adalah beriman dan percaya terhadapnya.

Persoalan Akidah Bukan Masalah Privasi Individu

Pasca keruntuhan peradaban islam diawal abad ke 19 memang telah mengubah tatanan kehidupan kaum muslimin. Tata aturan muamalah islam yang semula diterapkan, sejak hari itu dicabut dari akarnya. Akibatnya manusia-manusia ambisius yang tidak mengerti soal imanpun menggantinya dengan aturan liberal yang berasaskan sekulerisme.

Memisahkan agama dari ranah kehidupan publik, ini adalah kenyataan pahit yang harus kita terima hampir 100 tahun ini. Sehingga wajar apabila agama berada didalam ranah individu saja, negara tidak ikut campur terhadapnya. Misi misionaris untuk memurtadkan kaum muslimin dianggap sesuatu yang tidak urgent, tetapi hak kebebasan yang dimiliki seorang individu untuk menyebarkan paham-paham yang mereka emban ditengah-tengah publik.

Kelompok misionaris berkedok LSM juga didukung negara karena keberadaan mereka dianggap sangat penting untuk meringankan kehidupan masyarakat. Urusan nanti murtad atau tidak, akan dikembalikan negara kepada masing-masing individu. Yang terpenting niat mereka dianggap baik karena memberikan bantuan sembako kepada masyarakat.

Namun sayangnya, hari ini sangat berbeda kondisinya, intelektual muslim sangat jauh dari pemahaman islam yang benar, keberadaan intelektual yang liberal dan sekuler, malah semakin mengobok-obok pemahaman masyarakat. Sebut saja salah satunya paham toleransi ditengah negeri multikultur seperti Indonesia. Toleransi dalam islam seharusnya Lakumdiinukum waliyadiin, agamamu adalah agamamu, dan agamaku adalah agamaku. Sehingga definisi yang tepat adalah membiarkan pemeluk agama lain melakukan ibadah sesuai ajaran mereka, bukan malah mengikuti cara peribadatan atau perayaan mereka.

Dengan kondisi yang carut marut inilah, wajar saja akidah masyarakat sangat mudah tergadaikan. Faktor pertama karena peran misionaris yang terus mencoba memurtadkan ummat muslim dan faktor kedua karena peran intelektual bercangkang muslim tapi pemahamannya sangat jauh dari islam, sehingga tidak perlu masyarakat murtad, tetapi jauh dari pemahaman islam saja sudah cukup.

Sehingga apabila dilihat darisini, masyarakat sudah sangat jelas membutuhkan perlindungan negara untuk menjaga keimanan mereka. Mereka tidak bisa hanya mengandalkan keyakinan individu saja tanpa sebuah lingkungan yang memadai, yang mendukung keimanan sebagai seorang muslim. Tetapi negara memikili peran yang sangat besar untuk memberikan pemahaman yang tepat soal akidah islam. Tidak hanya itu, negara juga seharusnya menerapkan regulasi yang sesuai dengan syariah islam agar masyarakat dapat mengaplikasikan pemahaman mereka dalam ranah kehidupan. Wallahualam bhisawab

Penulis: Ratna Mustika Pertiwi, S.Pt (Pegiat Literasi)
×
Berita Terbaru Update