-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Gay Sex Party: Absurdnya Kemerdekaan Berekspresi

Sabtu, 05 September 2020 | 08:44 WIB Last Updated 2020-09-05T00:45:27Z

LorongKa.com - Beberapa hari belakangan ketika kita menilik berbagai berita media massa dan media elektronik, bersliweran berita soal Gay Sex Party yang diadakan di Kuningan Jakarta.

Luar biasanya, pesta tersebut digarap cukup matang berkedok perayaan hari kemerdekaan. Tidak tanggung-tanggung acara tersebut juga diselenggarakan di sebuah apartemen mewah yang pesertanya mencapai 56 orang laki-laki, dan mereka diwajibkan membayar tiket 150 ribu per orang.

Duh miris! Negeri sedang kalang kabut mengatasi pandemi, pasien terus melonjak lebih dari 180.000 kasus positif diumumkan, tetapi pemudanya malah mengadakan acaranya yang jauh dari kata manusiawi.

Lebih dari itu seorang panitianya setelah diperiksa ternyata juga positif HIV. Dan bisa dibayangkan jika semakin banyak manusia-manusia yang menyimpang, kasus HIV akan merembet dengan cepat layaknya MLM.

Kontradiksi Makna Kebebasan Berekspresi

Kasus-kasus digerebeknya pesta gay sebenarnya sudah banyak terjadi. Bahkan kisah kaum inipun juga sudah ditulis di Al-Qur'an sebagai peringatan. Allah memfirmankannya dengan sangat jelas, bahwa kaum Luth yang menyimpang akhirnya di azab dengan siksa yang pedih. Buminya dibalikkan pada saat mereka sedang melakukan hubungan intim sesama jenis.

Innalilahi wa innailaihi rojiun, namun lagi-lagi, kita berkaca pada gaya hidup hari ini, yang serba bebas dan serba memarginalkan agama dari kehidupan. Gaya hidup yang saya katakan sangat aneh dan tidak sesuai dengan fitrah. Bagaimana tidak, manusia diminta untuk bebas tanpa batas termasuk dalam berekspresi.

Hak terhadap tubuh adalah hak prerogatif si manusia, siapapun tidak berhak mengatur sekalipun agama. Pemahaman gender yang masuk ke telinga dan pemahaman generasi muslim telah melahirkan generasi-generasi yang bobrok, mereka berhak memilih ingin memiliki orientasi seksual seperti apa, hingga lahir para aktivis pelangi yang memperjuangkan hak-hak kaum gay, lasbian, transgender dan biseksual atau biasa kita sebut LGBT.

Ya, pada kenyataannya sudah menjadi opini umum bahwa kelakuan mereka akan mengantarkan bencana, seperti yang sudah diperingatkan Rasul, "Jika zina dan riba telah menguasai negeri, tunggu saja azab dari Allah".

Kita sudah mengetahui pula bencana itu tidak hanya menimpa kepada si pelaku tetapi seluruh masyarakat. Contoh saja, 1 orang gay dia akan terus mencari laki-laki lain hingga hasratnya terpenuhi, karena aktivitas perzinaan yg dia lakukan akan seperti narkoba yg membuat kecanduan. Dan bisa kita tebak akan banyak laki-laki yang ketularan jadi gay.

Belum lagi penyakit-penyakit yang ditimbulkan, semisal sifilis dan HIV. Jika si laki-laki memiliki istri sedangkan dia juga gay, akibatnya istrinya nuga ketularan. Dan kasus HIV akan seperti bom yang akan meledak.

Lalu dimana makna kemerdekaan dari kebebasan berekspresi?

Saya katakan tidak ada, itu semua hanya bualan. Mereka mengatakan merdeka, tetapi sesungguhnya mereka distir dengan hawa nafsu.

Padahal aturan-aturan Allah jika ditaati perintah dan larangannya, akan membuat manusia layak disebut manusia. Why? Karena jika kita melepaskan aturan Allah dari kehidupan, tak ada bedanya manusia dengan

binatang. Bahkan binatang saja yang jantan akan menyukai betina, bukan jantan menyukai jantan.

Dan dari sinilah kita mengetahui jika makna kemerdekaan yang sesungguhnya, ketika kita taat kepada Allah secara menyeluruh. Merdeka itu ketika kita berhasil membebaskan penghambaan diri kepada selain Allah.

Maka, saya bagian dari generasi muda sangat prihatin dengan kejadian ini. Kita harus mulai menyadari bahwa memperbaiki diri untuk meraih mulia dengan Ridho Allah harus segera dilakukan.

Mungkin siksa neraka itu bias, karena memang takutnya manusia kepada Allah itu butuh pengondisian dari masyarakat dan peran negara.

Jika masyarakatnya baik individu akan baik, dan bagaimana masyarakat jadi baik? Jika negaranya memiliki peraturan yang sesuai ridho Allah untuk mengatur masyarakatnya.

Penulis: Ratna Mustika Pertiwi, SP.t (Pegiat Literasi)
×
Berita Terbaru Update