Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Perbaiki Generasi Melalui Literasi

Jumat, 09 Oktober 2020 | 13:12 WIB Last Updated 2020-10-09T05:12:45Z
Dian Anjarwati (Member Liwa Squad)

LorongKa.com - 
Salah satu bisyarah yang dapat menginspirasi setiap Muslim adalah bisyarah Rasulullah yang disampakan oleh Abdullah bin Amru pada shahabat. Abdullah bin Amru bin Al-Ash berkata, “bahwa ketika kami duduk di sekeliling Rasulullah saw untuk menulis, tiba-tiba beliau saw ditanya tentang kota manakah yang akan difutuh (dibebaskan) terlebih dahulu, Dian Anjarwati (Member Liwa Squad)Dian Anjarwati (Member Liwa Squad)apakah kota Konstantinopel atau kota Roma”. Rasulullah SAW menjawab, “Kota Heraklius terlebih dahulu (maksudnya Konstantinopel)” (HR Ahmad). 


“Kalian pasti akan membebaskan Konstantinopel, sehebat-hebat amir (panglima perang) adalah amir-nya dan sekuat-kuatnya pasukan adalah pasukannya” (HR Ahmad). 


Sebagai seorang muslim menyikapi apa yang keluar dari RasulNya baik perkataan, perbuatan dan diamnya Rasul adalah perkara yang wajib diyakini, karena termasuk dalam salah satu sumber hukum Islam, yaitu Sunnah Rasulullah. Apalagi seperti yang disampaikan Rasul dalam Hadist tadi, merupakan sebuah kabar gembira, dan sudah terbukti kebenarannya dari ucapan Beliau. Tidak ada keraguan atas bisyarah tersebut karena bukti atas peristiwanya masih tersimpan dalam museum serta buku sejarah yang menggambarkan bagaimana seorang pemuda bernama Muhammad Al Fatih berhasil mewujudkannya. Artinya semua bukti nyata adanya, dapat diindera dengan baik. Lalu sebagai muslim, apalagi yang kita tunggu dalam merespon fakta ini. Kembali merenungi bisyarah ini, baik melalui buku atau situs internet yang menayangkan tentang peristiwa heroik ini. Seperti yang sempat viral di jagat maya, adanya anjuran untuk membaca kisah Muhammad Al Fatih untuk para siswa. 


Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengeluarkan surat tentang instruksi membaca buku Muhammad Al Fatih 1435 karya Felix Y Siauw untuk meningkatkan minat literasi siswa. Surat bernomor 420/11.09.F DISDIK tertanggal 30 September 2020 itu ditujukan kepada seluruh Kepala Sekolah SMA/SMK se-provinsi Bangka Belitung yang ditandatangani Muhammad Soleh selaku Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Bangka Belitung. Dalam surat yang viral tersebut, diinstruksikan kepada siswa untuk membaca buku 'Muhammad Al Fatih 1453' penulis Felix Siauw. Selanjutnya, siswa diminta merangkum isi buku tersebut dengan gaya bahasa masing-masing peserta didik (viva.co.id 02/01/20). 


Namun hebohnya surat edaran yang sempat membuat takjub warganet ini, kembali dibatalkan oleh Kepala Dinas Pendidikan Babel. Muhamamad Soleh mengakui keteledorannya membuat surat edaran ke seluruh SMA/SMK untuk membaca buku Muhammad Al Fatih sebagai salah satu buku wajib bagi siswa untuk belajar di rumah di masa pandemi Covid-19 ini adalah karangan seorang aktivis HTI Felix Siauw. 


“Setelah mengetahui hal itu, saya langsung membatalkan surat edaran wajib membaca buku tersebut satu jam setelah beredar. Saya baru dapat informasi bahwa pengarang buku ini adalah anggota ormas yang dilarang," kata Soleh (babel.inews.id 2/10/2020).


Adanya sikap yang demikian heboh dikalangan masyarakat tentunya semakin membuat tanya besar. Bagaimana sebuah buku menjadi persoalan. Bukahkah buku hadir untuk menambah wawasan. Apalagi buku yang berisi sejarah besar sebuah peradaban. Walaupun sedemikian rupa kita menolak tahu akan peristiwa sejarah,  tapi hadirnya sebuah buku tidak bisa dihindari agar generasi tidak miskin literasi. Juga tidak ingin kita jumpai tuna sejarah hinggapi para generasi.


Padahal melihat perkembangan saat ini, generasi muda kita seolah kehilangan arah akan sosok yang seharusnya jadi panutan mereka. Sosok yang seharusnya jadi panutan mereka tentunya berasal dari generasi terbaik kaum Muslim. Karena sangat jelas, prestasi yang dihasilkan oleh pemuda muslim saat itu terdengar tidak hanya di dunia bahkan sampai penduduk langit. Dan semua itu tersusun apik dalam lembaran buku sejarah yang beredar di tangan umat. 


Produk Barat berupa ide kebebasan, cinta dunia, serba boleh tidak lain berasal dari sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Ajaran yang kian berkembang ini, menjadi panutan kalangan muda, bahwa tidak perlu membawa agama ketika menjalani kehidupannya. Berbahaya ide ini membuat miris semua kalangan. Dimana generasi muda, susah diingatkan tentang hal yang berbau agama, karena bisa menghambat kreativitasnya. Padahal justru dengan agamalah yang menjadi rem dari setiap aktivitas yang ingin dilakukan. 


Namun dengan banyaknya arus modernisasi yang dihembuskan barat, membuat sibuk para generasi muslim. Sehari-harinya tak henti memikirkan apa yang sedang viral di dunia. Berlomba menjadi trend dikalangannya, dengan pandangan kehidupan ala barat, yang hadirkan kebahagiaan bagi dirinya semata, puas akan capaiannya saat dilihat seluruh dunia sampai rela gadaikan pemahaman dari sisi agama. Inilah mental yang keliru bagi generasi muslim. Barat sangat menginginkan demikian. Mereka tak ingin generasi muda sadar akan keberadaan mereka yang dibutuhkan umat dan negara. Karena jika para generasi bangkit dari keburukan sistem buatan manusia ini, maka hancurlah pula seluruh tatanan ekonomi dan peradaban yang selama ini dibangun oleh Barat.


Seharusnya melalui sebuah buku,  bisa membentuk mental baru bagi generasi. Seperti contoh buku Muhammad Al Fatih. Bagaimana dikisahkan karakteristik seorang hamba yang menyambut bisyarah Rasulullah, terbentuk diusianya yang belia. Semangat juang seorang panglima terbaik dalam membentuk pasukan terbaik serta mengadakan peralatan perang yang terbaik pula. Membuat penduduk dan prajurit lawan hanya terbengong saat melihat pasukan Muhammad Al Fatih memasuki kota mereka setelah dihadang dari berbagai arah. Kuatnya tekad ingin menyambut bisyarah itulah, akhirnya Konstantinopel berhasil takluk di tahun 1453.


Berharap sistem sekuler kapitalis hasilkan generasi Al Fatih tentu akan tertatih. Karena sistem ini dilihat dari sisi manapun tidak akan bisa wujudkan generasi yang diinginkan Islam. Baru saja diminta membaca buku untuk perkuat literasi, sudah ditarik kembali. Padahal bisa jadi itu salah satu pembentuk generasi yang melek literasi. 


Bentukan generasi dalam Islam jelas kecemerlangannya. Dari mulai pembinaan oleh Rasulullah SAW pada para Sahabat yang berhasil menjadi pemimpin dan menakluklan negeri kufur hingga mau dipimpin oleh sistem Islam. Hingga muncul generasi baru jauh setelah Rasul wafat, dengan gemilangnya menjadikan Islam menguasai 2/3 dunia, semua itu dilakukan dengan pembinaan Islam. 


Dimulai dari penguatan Aqidah yang menjadi dasar mereka menjalani kehidupan. Tidak akan ditemui kacaunya aqidah generasi muslim saat itu karena setiap komponen turut menyadari pentingnya aqidah, baik secara individu saling kuatkan, masyarakat juga menjaga aqidah tiap individunya agar saling ingatkan, serta negara dengan perangkat aturannya sesuai Syariat Islam lindungi rakyatnya dari pengaruh aqidah lain yang berbahaya. 


Dukungan akan sistem pendidikan Islam yang berkomitmen wujudkan generasi cemerlang senantiasa dijalankan sesuai tuntunan Allah dan Rasul. Hasilnya adalah generasi pembelajar yang kaya literasi serta memiliki daya juang tinggi. Karena apa yang mereka dapatkan tidak hanya untuk diri mereka sendiri saja. Namun juga harus berguna bagi umat seluruh dunia. 


Bisyarah Rasulullah SAW masih ada lagi yang belum terwujud. Jika Konstantinopel telah takluk dan itu tidak akan terulang kembali karena posisi yang mulia dalam bisyarah rasulullah telah ditempati oleh Muhammad Al-Fatih. Penaklukan kota Roma hanya menunggu waktu dan posisi kemuliaan itupun akan ditempati oleh satu orang. Dan ada satu bisyarah lagi yang rasulullah sampaikan pada kita, yang mengajak kita semuanya untuk merealisasikan itu.


“Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) yang zalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian” (HR. Ahmad). 


Demikianlah, bahwa pentingnya literasi untuk kemuliaan umat harus dibentuk. Dari membaca kita tahu akan segala hal yang disampaikan Rasul. Wahai generasi, jangan takut membaca, carilah bacaan yang membangkitkan perjuangan Islam. Karena dengan itulah sedikit demi sedikit karakter kita sebagai generasi muslim terbentuk. Dan siap menyambut bisyarah Rasulullah di depan mata. Wallahu'alam.


Penulis: Dian Anjarwati (Member Liwa Squad)

×
Berita Terbaru Update