Notification

×

Iklan

Iklan

Artikel Terhangat

Tag Terpopuler

Rangga Dan Negara

Sabtu, 24 Oktober 2020 | 16:23 WIB Last Updated 2020-10-24T08:23:39Z

Lulu Nugroho

LorongKa.com - 
Publik dibuat terhenyak ketika Rangga, bocah 9 tahun warga Gampong Alue Gadeng, Birem Bayeun, Aceh Timur, tewas di malam buta. Ia berusaha menyelamatkan ibunya dari pemerkosaan. Hingga Kamis sore (15/10), aksi brutal penjahat tersebut dengan tagar #Rangga di Twitter menjadi trending mencapai 32 ribu tweet.


Peristiwa ini memang sangat tragis, tanpa ampun pelaku kejahatan tersebut membunuh Rangga dan melukai ibunya. Tersangka merupakan residivis, mantan narapidana (napi) dengan kasus yang sama, yang dibebaskan tanpa syarat melalui program asimilasi Covid-19. Warganet akhirnya mengecam kebijakan asimilasi yang ternyata tidak berbuah kebaikan. (Jurnalsumsel, 19/10/2020)


Tersangka Samsul Bahri (41 tahun) pun tak lama kemudian meninggal saat mendekam di tahanan Polres Langsa, pada Sabtu (17/10) malam. Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Langsa Inspektur Satu Arief Sukmo Wiboeo mengatakan, karena gangguan pernafasan. (CNNindonesia, 18/10/29/2020)


Akhirnya ia harus berhadapan dengan Allah, mempertanggungjawabkan perbuatan jahatnya. Nafsu bejat manusia tanpa kendali akidah, sungguh di luar nalar dan rasa kemanusiaan, menjadikan seseorang sanggup berbuat keji. Namun hal seperti ini bukan kali pertama. Banyak lagi kisah mengerikan lainnya, seolah ingin berebut panggung di negeri ini. 


Karenanya perlu upaya sistemik untuk menuntaskan seluruh kerusakan di negeri ini. Sebab korbannya tidak hanya bocah berseragam putih merah tersebut, tapi juga mengenai seluruh masyarakat, merasuk ke dalam sendi-sendi kehidupan umat, membelit tanpa ampun, hingga tak ada jalan ke luar kecuali dengan mencampakkan akidah batil ini.


Ketika sekularisme dijadikan sebagai asas bernegara, maka sulit bagi penguasa mengakomodir seluruh kebutuhan umat. Keberpihakan penguasa hanya pada para kapital, karenanya mereka tidak mampu menjadi junnah bagi umat. Lebih dari itu, kemaslahatan juga tidak lagi terbentuk. Sebab kepentingan manusia pemilik modal yang dikedepankan.


Sekularisme menegasikan peran Allah dalam pengaturan urusan umat. Segalanya diukur dengan uang. Karenanya keamanan menjadi sesuatu yang mahal. Padahal seharusnya merupakan tanggung jawab penguasa. Akan tetapi diserahkan pada masing-masing individu untuk menjaganya. Atau malah ke swasta sehingga menjadi sebuah komoditas atau layanan berbayar. 


Sejalan dengan hal itu, sanksi hukum pun tidak membuat jera, sehingga kemungkaran merebak di tengah umat. Hal ini akan membebani negara, sebab berbagai kerusakan terus terjadi bagai tak berkesudahan. Kuncinya ada pada negara, mengambil solusi sahih yang mengakar agar tuntas seluruh permasalahan umat.


Karenanya, menanggalkan syariat dan membuat aturan sendiri demi kepentingan golongan tertentu, jelas merupakan suatu kezaliman. Kembali pada Islam sebagai satu-satunya metode gemilang mengatur urusan umat. Sebab segala hal yang datang dari Islam adalah kebaikan.


Negara pun memiliki peran penting menjaga hak warganya. Tidak hanya memberi sanksi tegas pada pelaku karena telah membunuh dan memperkosa, tapi juga memberi penjagaan di seluruh lini kehidupan. Baik itu, di bidang ekonomi, sosial, pendidikan, politik, persanksian dan lainnya. 


Dalam Islam, negara pun wajib melestarikan eksistensi manusia, menjaga jiwa, kepemilikan individu, kehormatan, agama, keamanan dan negara. Tanggung jawab ini tetap, tidak pernah berubah. Sebab terkait dengan perintah dan larangan Allah subhaanahu wa ta'ala, dan bukan untuk keuntungan materi. 


Begitu pula halnya dengan penjagaan di seluruh lini kehidupan. Baik di bidang ekonomi, sosial, pendidikan, politik, persanksian dan lainnya. Alhasil seluruh aturan yang berlaku memiliki ruh, kesadaran bahwa manusia berhubungan dengan Allah, termasuk para penguasa. Hal ini juga menjadi hujah mereka di hadapan Allah. 


Negara harus melihat Rangga. Ia telah mengajarkan pada khalayak, tentang tanggung jawab seorang laki-laki menjaga kehormatan ibunya. Nalurinya terusik meski usianya masih sangat belia. Tanggung jawab yang sama melekat pada negara, memberi perlindungan hingga kesejahteraan dirasakan seluruh umat. Allahumnshurnaa bil Islam.


Penulis: Lulu Nugroho (pengemban dakwah dari Cirebon)

×
Berita Terbaru Update