-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ketika Profesi Guru Tak Banyak Ditiru

Jumat, 05 Februari 2021 | 19:24 WIB Last Updated 2021-02-05T11:25:26Z

Rina Tresna Sari,S.Pd.I (Pendidik Generasi Khoiru Ummah dan Member AMK)

Kita jadi bisa menulis dan membaca karena siapa?

Kita jadi tahu beraneka bidang ilmu dari siapa?

Kita jadi pintar dibimbing Pak Guru

Kita bisa pandai dibimbing Bu Guru

Gurulah pelita penerang dalam gulita

Jasamu tiada tara

LorongKa.com - Penggalan lagu Jasamu Guru ciptaan M Isfanhari tersebut menyampaikan jika jasa guru membuat kita menjadi pintar dan berilmu. Guru sangatlah berjasa dalam proses kegiatan belajar mengajar. Karena nya sangat pantas bila guru disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.


Betapa pentingnya jasa seorang guru dalam proses pendidikan, bahkan sekolah yang berkualitas bukan hanya ditentukan dari kurikulumnya saja. Tetapi juga kualitas para guru yang mengajar.  


Guru yang dalam tradisi Jawa merupakan akronim dari “digugu dan ditiru” (orang yang dipercaya dan diikuti), bukan hanya bertanggung jawab mengajar mata pelajaran yang menjadi tugasnya, melainkan lebih dari itu juga mendidik moral, etika, integritas, dan karakter.  Martin Luther King Jr menyatakan, “Intelegence plus character ; that is the true goal of education.”


Karenanya dalam proses pendidikan,  kompetensi  guru merupakan kunci penentu mutu pendidikan. Guru berkualitas akan melahirkan generasi berkualitas. Namun sangat disayangkan  pada faktanya Indonesia masih kekurangan tenaga pengajar. Sebagaimana dilansir POJOKBANDUNG.com, 29/01/2021, Hingga tahun 2021, Pemerintah Kabupaten Bandung kekurangan ribuan tenaga pendidik baik untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) maupun Sekolah Menengah Pertama (SMP). 


Anggota Komisi D DPRD Kabupaten Bandung, Yayat Sumirat mengaku terkejut dengan jumlah kekurangan guru di Kabupaten Bandung, yang mencapai angka 7.221 untuk guru SD dan 1.139 untuk guru pendidikan agama. Jumlah tersebut belum mencangkup kekurangan guru ditingkat SMP.


Sungguh kualitas pendidikan sedang dipertaruhkan karena kekurangan guru, bagaimana pendidikan dapat tersampaikan dengan baik bila tenaga pendidiknya pun jumlahnya tidak memadai, dan  guru yang ada pun kondisinya masih banyak yang kurang berkualitas.


Tak ada asap bila tak ada api, demikian pula dengan permasalahan yang terjadi. Sebaiknya pemerintah dalam hal ini yang bertanggung jawab terhadap pemenuhan kebutuhan dasar pendidikan untuk rakyat, juga  berusaha memenuhi kebutuhan akan tenaga pengajar dan segala permasalahan nya. 


Rupanya jeratan  kapitalisme memberikan pengaruh besar dalam semua aspek, tidak terkecuali dalam aspek pendidikan. Pendidikan ala kapitalisme menghasilkan paradigma berpikir  sekuler materialistik.  Agama tidak menjadi acuan dalam kehidupan, namun segalanya diukur dengan materi.  Sesungguhnya semua berawal dari paradigma ini, ketika memandang berbagai persoalan termasuk soal guru. Pendidikan ala kapitalisme selain telah gagal mencetak generasi manusia dengan kepribadian utuh dan berkarakter, karena yang terbentuk adalah manusia intelek tapi kosong ruhiyah (agama), bahkan tak sedikit yang bermoral bejat.  Juga,  tak mampu menghargai  profesi mulia , seperti guru. 


Belum lagi permasalahan guru honorer yang juga tidak pernah selesai, minim nya gaji mereka juga janji palsu pengangkatan PNS yang tidak kunjung datang ikut menambah daftar panjang permasalah di dunia pendidikan negara ini. Sehingga profesi guru semakin minim peminatnya.


Sistem Islam:  Solusi Sistemik


Perubahan mendasar sangat dibutuhkan dalam upaya mengubah paradigma pendidikan hari ini.  Hal itu hanya dapat diwujudkan dengan melakukan perbaikan secara menyeluruh yang diawali dari perubahan paradigma pendidikan kapitalisme menjadi paradigma Islam.  Karena Islam memiliki cara pandang hidup yang benar yang datang dari Sang Maha Pencipta manusia, alam semesta dan kehidupan. Di dalam Islam, sitem pendidikan yang diterapkan adalah sistem yang berasal dari akidah Islam.


Tujuan pendidikan Islam tidak terlepas dari tujuan hidup manusia dalam Islam, yaitu untuk menciptakan pribadi-pribadi hamba Allah yang selalu bertakwa kepada-Nya, dan dapat mencapai kehidupan yang berbahagia di dunia dan akhirat (QS. Al-Dzariat:56; ali Imran: 102).  Pendidikan Islam membentuk kepribadian Islam pada diri setiap muslim, memiliki tsaqafah Islam yang luas, serta membekali dirinya (peserta didik) dengan berbagai ilmu dan pengetahuan yang berkaitan dengan kehidupan.


Juga memandang mulia terhadap ilmu, tsaqofah dan pendidikan itu sendiri.  Apalagi kepada para pendidik, yang telah mencurahkan pemikiran, waktu dan tenaganya untuk khidmat membangun SDM, agar tercapai tujuan pendidikan Islam.


Sejarah telah mencatat bahwa guru mendapatkan penghargaan yang tinggi dari negara termasuk pemberian gaji yang melampaui kebutuhannya. Di riwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah, dari Sadaqoh ad-Dimasyqi, dar al- Wadl-iah bin Atha, bahwasanya ada tiga orang guru di Madinah yang mengajar anak-anak . Khalifah Umar bin Khattab memberi gaji lima belas dinar (1 dinar = 4,25 gram emas; 15 dinar = 63,75 gram emas; bila saat ini 1 gram emas Rp. 500 ribu, berarti gaji guru pada saat itu setiap bulannya sebesar 31.875.000). Tak ada pembedaan dengan pengklasifikasian ASN atau honorer. Sehingga kebutuhan akan tenaga pendidik bisa dipenuhi, siapa yang tidak tertarik dengan profesi ini bila kedudukanya begitu dimuliakan.


Sungguh luar biasa, para guru akan terjamin kesejahteraannya dan dapat memberi perhatian penuh dalam mendidik para siswa.  Tanpa harus dipusingkan lagi untuk membagi waktu dan tenaga untuk mencari tambahan pendapatan. Sehingga selain mendapatkan gaji yang besar, mereka juga mendapatkan kemudahan untuk mengakses sarana dan prasarana untuk meningkatkan kualitas mengajarnya. Hal ini tentu akan membuat guru bisa fokus untuk menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan pencetak SDM berkualitas yang dibutuhkan negara untuk membangun peradaban yang agung dan mulia. Guru pun  tulus mengabdi, tak terjebak sikap- dari life style rusak-yang mempengaruhi cara pandangnya terhadap materi dan kekayaan. 


Semua membutuhkan sistem ekonomi yang tangguh, juga pemerintah yang bersih dan amanah.  Di mana negara bisa mengoptimalkan pendapatannya (APBN) dari sumber daya alam yang dimiliki rakyat.  Indonesia mampu untuk itu, dengan sumber daya minyak, gas dan mineral yang dimilikinya.  Plus hutan dan laut yang dipenuhi kekakayaan yang luar biasa.  Masihkah ragu untuk itu?


Syaratnya cuma ‘kemauan’ untuk  berubah, dengan menjadikan Islam diterapkan secara kafah dalam seluruh aspek kehidupan.  Wallahu a’lam Bishshawab.


Penulis: Rina Tresna Sari,S.Pd.I (Pendidik Generasi Khoiru Ummah dan Member AMK)

×
Berita Terbaru Update