September 2018 | LORONG KATA
Tweet Share Share Share Share Share

OPINI --- Mahasiswa merupakan kaum intelektual dan sebagai tulang punggung bangsa ini. Di era milineal ini sebagian besar mahasiswa apatis terhadap sumpahnya sendiri.

Fakta di lapangan mahasiswa lebih memilih diam tak berorganisasi walaupun ikut berorganisasi tetapi hanya ikut ikutan namun tak berpartisipasi dalam perubahan bangsa ini.

Dalam sumpah mahasiswa poin pertama mengatakan kami mahasiswa Indonesia bersumpah bertanah air satu tanah air tanpa penindasan. Dengan melihat realitas saat ini,masih banyak terjadi penindasan di bangsa yang tercinta ini,Namun sebagian besar mahasiswa lebih memilih diam dan mengikuti arus kaum Borjuis yang monopoli SDA dengan menerapkan sistem kapitalisme nya.

Poin kedua sumpah mahasiswa yaitu bersumpah berbangsa satu bangsa yang takluk terhadap keadilan,Namun fakta di lapangan masih banyak ketidak Adilan di negeri ini,kita bisa melihat hukum tumpul keatas tetapi tajam kebawah. Fakta nya para koruptor di potong masa tahanannya bahkan bisa mengikuti calon legislatif padahal mereka sudah menipu jutaan rakyat,entah apa yang dipermainkan sehingga melakukan itu.

Mari berpikir logis seorang nenek mencuri makanan demi kebutuhan nya tetap saja dihukum. Tetapi perlu kita ketahui historis pencurian makanan tersebut, karena disini ketidakadilan nya para penguasa sehingga masih banyak rakyat miskin kota yang kelaparan. Dimana peran mahasiswa dalam melihat kondisi ini?

Poin ketiga mahasiswa bersumpah bahasa tanpa kebohongan. Mari melihat sebagian mahasiswa tidak berani menyuarakan kebenaran, entah apa alasannya. Namun itu merupakan penghianatan terhadap pendahulu kita yang rela mati demi kebenaran.

Wahai mahasiswa ayo bangkit dari tidurmu jangan biarkan kaum intelektual terlena dengan kondisi sekarang bahkan jangan bersikap apatis atau hipokrit.

"Manusia yang paling mulia adalah manusia yang bermanfaat bagi sesamanya"

Penulis : Sudirman
Tweet Share Share Share Share Share

OPINI --- Pentingnya membangun partisipasi masyarakat dalam membangun kampung/ Mungkinkah pemuda kembali ke Kampung.

Secara sederhana konsep partisipasi terkait
Dengan keterlibatan suatu pihak dalam suatu kegiatan. Selama ini tingkat partisipasi masyarakat tetap dipertahankan Sampai saat ini, misal sifat gotong royong (aseddi sedding)
Saya selaku pemuda desa tompobulu mengapresiasi kepada Tokoh masyarakat, toko pemuda, tokoh adat dan tokoh wanita Atas kontribusinya dalam meningkatkan persatuan Dan kesatuan dikampung kami. 
Sehingga sampai saat ini masih dapat dipertahankan. Jadi sedikit harapan saya kepada pera pemuda yang sudah kuliah diluar (kota) dan Dari ilmu yg didapatkan di bangku kuliah dapat berguna dan bermanfaat bagi masyarakat.
Walaupun euforia terhadap kota memang tak dapat dihindari. Namun bagi saya tempat yang terbaik bagi mereka itu adalah kembali ke Desa, kenapa! Karena di Desa banyak peluang usaha yang belum diketahui masyarakat adapun peluang dibidang yang lain yang belum sama sekali tersentuh. Jadi harapan satu satunya adalah ada pada pemuda untuk menciptakan suasana baru.

Penulis: Rustan Ansar
Tweet Share Share Share Share Share

Perubahan
Sutra tenri awaru

Hidup adalah serangkaian kata yang mempunyai arti.
Kata yang disusun sehingga menjadi kalimat, begitu juga kehidupan.

Terkadang terjatuh adalah hal yang paling ditakuti kenapa tidak? Terjatuh adalah masalah bagi mereka yang tak tau definisi dari bangkit dan lemah akan kondisi. Namun terjatuh juga bisa menjadi sebuah alasan untuk kembali ke kehidupan.

Aku tak punya alasan untuk menyerah, karna hidup tak butuh orang orang yang cengeng, tak peduli dengan rengekan rengekan palsu. Manusia bisa dikatakan dewasa jika telah memiliki masalah, dan diuji dengan kesabaran yang dimilikinya, terkadang air mata adalah hal terpenting yang menemani masa lalu yang begitu kelam. Tetapi air mata tidak akan membuat kita menemukan jalan yang kita cari.

Bangkitlah!
Lalu berjalan kedepan namun jangan melupakan masa lalu.
Angkatlah kepalamu namun jangan lupa untuk tunduk kepada sang Pemberi Hidup.
Tertawalah tetapi jangan sampai air matamu habis.
Tweet Share Share Share Share Share

Pengabdian Yang Tiada Arti
(Andika Putra)

Semangat membara di pagi hari, sepercik asa dan sesuap nasi, sedekah tenaga sepanjang hari, berharap pengorbanan tak berbuah mimpi.

Tapi sungguh malang hati, yang dinanti tak lagi berarti, rupanya mimpi sudah basi, yang ditunggu tak kunjung menghampiri.

Ijinkan kami bertanya lagi, kapan penguasa memperhatikan kami ?, sungguh nelangsa hati, berpuluh-puluh tahun kami mengabdi lalu mengapa engkau tak mengakui.

Jangankan mengangkat kami, melirik pun kau tak peduli, apakah kau pikir kami bukan warga negeri ini, atau memang tidak ada guna bagi pengabdian kami.

Jangan paksa kami berteriak GANTI, jangan paksa kami memberontak lagi, berikan ruang untuk kami, hargai pengorbanan kami, beri pengakuan akan pengabdian kami.

Hey.... apakah mungkin matamu buta dan telingamu tuli, kami marah pun kau tak peduli, lagi-lagi hanya janji agar dipilih lagi, kelak suara bukan untukmu lagi sebab kau tak pernah memihak kami.
Tweet Share Share Share Share Share

OPINI --- Mahasiswa tidak boleh gondrong, atau mahasiswa gondrong tidak boleh masuk ruangan mengukuti proses pembelajaran. Menurut saya, hal tersebut adalah merupakan pembungkaman demokrasi dalam hal ini pembatasan berekspresi secara tidak langsung. Sebab kampus merupakan lalulintas argumen, pengkajian dan pertarungan gagasan-gagasan ilmiah, bukan memprioritaskan pada pengatur berpenampilan.

Tapi oleh berbagai isu aturan kampus yang beredar. Maka kini beberapa kampus telah berubah menjadi pengatur berekspresi, menjelma wujud seperti kantor pelayanan jasa.

Secara pribadi saya merasa larangan gondrong itu hal yang wajar, kalau saja apa yang diberikan Perguruan Tinggi kepada mahasiswa betul-betul seperti yang diharapkan yaitu, kecerdasan yang mumpuni. Lalu siapa yang bisa menjamin?

Saya harap tidak akan ada jaminan akan hal itu, jadi membatasi mahasiswa berpenampilan dalam hal ini melarang gondrong pun juga merupakan pembatasan berekspresi. Dimana tidak ada kaitannya dengan intelektual, sementara yang paling penting dalam kampus adalah kualitas mahasiswanya yang bermutu.

Saya kuliah di Perguruan Tinggi Muhammadiyah, lantaran rambut gondrong pun juga dinilai sebagai salah satu penampilan yang tidak mencerminkan diri sebagai mahasiswa yang santun. Dan penilaian itu, sangat keliru menurut saya.

Tuhan pun yang nyatanya sebagai pemilik alam semesta beserta isinya, hanya menilai hamba-hambanya dari tingkat keimanan. Keimanan adalah parameter kualitas manusia di hadapan Tuhan, sementara penampilan adalah mutlak bukan cerminan dari otak apalagi hati.

Hal itulah yang membuat saya penasaran, kenapa gondrong ini, dan bagaimana implikasinya? Toh menurut ustadz yang pernah saya dengar, Rasul saja memiliki rambut panjang di atas ukuran rata-rata rambut zaman sekarang. Apalagi saya kuliahnya di kampus yang meneladani Rasul yakni Muhammadiyah.

Tentu kita akan kaget, kalau tiba-tiba ada pernyataan yang keluar dari kampus bahwa mahasiswa yang berambut gondrong tidak boleh lagi masuk kampus. Maka spontan kita akan bertanya-tanya pada diri sendiri dan akan menganggap bahwa rambut adalah bagian dari kecerdasan, atau rambut mempengaruhi pola pikir manusia.

Dalam dunia akademis (mahasiswa) tentu saja tidak akan membenarkan tindakan yang hanya menilai sempul sebagai esensi dari segala sesuatu.

Menurut saya, sejatinya Kampus adalah sarana transformasi ilmu pengetahuan. Mengalir seperti air jernih untuk menyuburkan tanaman-tanaman yang kelak akan menghidupi manusia, bukan tempat menampilkan gaya kantoran yang serba mengkilap dengan rambut tersisir rapi lantaran kosong tak bermakna.

Di beberapa kampus mungkin sudah diterapkan aturan itu, dimana mahasiswa tidak boleh gondrong. Entah karena jelek atau mengganggu pemandangan, yang pasti hal tersebut bukan pula jaminan akan kecerdasan hingga selesai di suatu kampus.

Saya sendiri kuliah di salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah, di sebuah kabupaten di pelosok negeri Indonesia ini. Dan beberapa pekan sebelumnya telah beredar isu kalau akan diterapkan pula aturan, yakni mahasiswa tidak lagi boleh gondrong di kampus tempat saya menimba ilmu.

Paling miris adalah informasi bahwa salah satu mahasiswa di kampusku tidak diizinkan lagi mengikuti salah satu mata kuliah karena berambut gondrong.

Sungguh ironi tindakan tersebut, bila benar diterapkan. Sebab, tempat yang dinobatkan sebagai pencerdasan kehidupan bangsa telah nampak menjadi, ibarat tempat seleksi artis atau model yang dimana (style) harus ditata dengan sangat rapi.

Padahal kalau kita menyelisik sedikit, dalam sejarah kehidupan saya. Belum pernah saya temui orang gondrong yang selepas kuliah dan tetap semrawut lantaran korupsi, yang ada adalah justru orang-orang tampil rapilah yang cenderung melakukan korupsi.

Jadi, kuncinya. Rambut bukan cerminam dari hati, bukan parameter intelektual, tapi lebih kepada seni (fashion) kesederhanaan. Sebab itulah inti dari beragam jawaban teman tentang rambut gondrong saat saya luangkan pertanyaan.

Sekali lagi saya tekankan, bahwa rambut tidak ada sangkut-pautnya dengan kemampuan berpikir secara akal sehat. Mari berambut panjang bagi yang mau, asal rapi. Toh, kita tidak menindas terlebih merampas hak orang lain.

Author: Burhan SJ
Tweet Share Share Share Share Share

OPINI --- Tidak terasa penerimaan CPNS sebentar lagi akan dilaksanakan baik tingkat daerah maupun tingkat pusat, meski belum jelas kapan jadwal pasti akan diselenggarakan namun saat ini sudah banyak info yang beredar terkait jutaan peserta yang akan mengikuti tes menjadi abdi negara.

Menjadi abdi negara adalah hal yang luar biasa dan diimpikan banyak orang. Maka tidak heran ketika info pendaftaran cpns mulai dibuka menjadi trending pencarian pertama di mesin pencari google.

Tidak hanya di internet, info cpns menjadi topik utama pembicaraan disetiap sudut kota maupun pelosok baik kaum ibu maupun bapak-bapak.

Menjelang pendaftaran cpns, banyak putra putri yang berada di luar daerahnya yang mendaftarkan diri sebagai cpns di tanah kelahirannya. Katanya sih, kalau diterima sekalian pulang kampung.

Menurut saya sih itu sah-sah saja, pasalnya menjadi abdi negara adalah pekerjaan mulia yaitu mengabdikan diri pada negara dan bangsa. Maka tidak heran ketika menjelang pendaftaran banyak orang yang rela meninggalkan pekerjaannya saat ini demi menjadi CPNS.

Namun ada beberapa hal yang kadang tidak diketahui oleh calon pelamar CPNS bahwa apa yang dipikirkan terkadang tidak sesuai dengan kenyataan. Salah satunya adalah tugas seorang PNS yang terkadang mengharuskannya lembur bahkan meskipun hari libur mereka terkadang harus bekerja.

Selain itu, belum lagi ketika harus terpisah dengan keluarga karena ditempatkan di daerah yang terpencil bahkan akses teknologi dan transportasi yang sangat terbatas.

Banyak yang kemudian berpikiran "terangkat jadi PNS aja dulu, urusan penempatan kan nantinya bisa minta pindah" namun perlu diketahui bahwa permohonan untuk pindah bisa saja baru akan terkabul setelah mengabdi puluhan tahun.

Salah satu cara mengatasi masalah penempatan maka setiap pelamar harus pandai memilih instansi yang tepat dan tidak beresiko pada penempatan. Mendaftar di kampung halaman sendiri adalah cara yang tepat untuk menghindari masalah penempatan.

Sebab akan sangat disayangkan ketika berhasil menyandang status PNS namun akhirnya mengundurkan diri hanya karena persoalan sedemikian itu, mengingat betapa susahnya menjadi PNS karena harus bersaing dengan jutaan pendaftar pada posisi yang sama ditawarkan.
Tweet Share Share Share Share Share

OPINI --- Pertambahan permukiman dan perubahan pola konsumsi masyarakat Sinjai menimbulkan bertambahnya volume, jenis, dan karakteristik sampah yang semakin beragam.

Sampah telah menjadi permasalahan sehingga pengelolaannya perlu dilakukan secara komprehensif dan terpadu dari hulu ke hilir, agar memberikan manfaat secara ekonomi, sehat bagi masyarakat, dan aman bagi lingkungan, serta dapat mengubah perilaku masyarakat.

Komponen biaya terbesar dalam pengelolaan sampah adalah penyediaan dan pengoperasian alat-alat berat dan alat-alat angkut persampahan, mulai dari biaya pembelian, pengoperasian termasuk gaji operator, bahan bakar, daln lain-lain, perlu diperhatikan.

Dari sisi lain, kesehatan perlu diperhatikan kepada petugas yang mengambil sampah dari tempat-tempat umum maupun dari masyarakat.

Petugas kebersihan adalah pekerja yang mulia dan perlu diperhatikan dari segi upah dan kesehatan.

Author : Muhlis Hajar Adiputra S. Sos., M.Si
Dosen STISIP Muhammadiyah Sinjai, Alummni Pasca UNHAS Makassar, jurusan Administrasi Pembangunan.
Tweet Share Share Share Share Share

Aku Malu Dengan Hijabku
Veni Asyifa Tunnisa

Langit hitam bertarung keras diperaduannya, memekakan telinga, memaksa diri untuk siuman dari mati malam

Membuat langkah menuju pintu yang teranggap terang

Air sengaja jernih untuk mengalir
Ku ambil dengan berjatuhannya air mata

Ku wudhukan dengan rasa maluku
Ku bersihkan dengan rasa takut Ku

Aku hanyalah wanita pendosa yang sedang berjalan menghapus dosa

Aku hanyalah wanita yang selalu ingkar dengan janji

Aku hanyalah wanita yang cantik namun hati yang terlampau picik

Aku hanyalah wanita bertopeng yang sedang membersihkan hati

Aku malu dengan hijabku yang panjang
Aku malu dengan pakaianku yang syar'i
Aku malu dengan shalatku disepanjang waktu
Yang selalu kau salahkan

Ku mohon mengertilah, aku bukan malaikat yang tiada dosa
Aku hanya wanita yang sekarang sedang berusaha memperbaiki diri
Jika ada sifatku yang buruk
Maka jangan salahkan hijabku
Salahkan diriku dan tegurlah aku dengan kelembutan.
Tweet Share Share Share Share Share

KHIANAT
sutratenriawaru

Kau berkhianat lagi ke dua kalinya..
Kau pergi dengan janji yang bergantung di bibir tipismu..
Kau pergi dengan ketamakan hatimu..

Oh elegi...inginku menikam sepi,inginku teriak,aku papah dengan keluhku..Aku menjerit kesakitan predator Cinta merajamku,menikamku berpuluh puluh kali..

Aku seperti orang yang sempoyongan,seperti makhluk yang kehilangan arah..

Kau begitu brengsek tuan,bahkan aku rela menunggu dengan setia,bahkan aku rela bertemankan sepi hanya untuk menunggu cinta sucimu tuan..

Tapi kau brengsek kau membuatku nelangsa setengah mati,kau menghidupkan cintaku kau menumbuhkan harapku dan kau juga yang membuatku tak percaya tentang bangunan mistis yang kesebut CINTA.
Tweet Share Share Share Share Share

OPINI --- Menganalisa sejarah dan fakta yang ada, dari tahun 1945 hingga sekarang, bangsa ini yang katanya merdeka namun realitasnya masih terjajah, bangsa ini tetap menjadi budak di tanahnya sendiri, menjadi boneka dari kekuasaan modal dan sistem sosial dan politik pemerintahan yang tidak adil.

Sistem modern yang tidak memerdekaan bangsanya, sistem ekonomi politik yang menghamba pada kekuasaan modal global dari imperialis modern yang melestarikan sistem oligarki kekuasaan yang menguntungkan segelintir orang.

Merdeka yang sejati ialah mereka 100%, dimana terbangunnya sistem sosial, ekonomi dan politik yang memastikan keadilan bersama dalam kehidupan bersama baik di komunitas dan sistem masyarakat dalam organisasi negara dicapai.

Merdeka ketika setiap individu tidak berpikir dan bertindak untuk dirinya sendiri, tapi mau berbagi dan berkontribusi untuk orang lain, komunitas dan masyarakat luas tanpa paksaan dan tekanan siapapun, sehingga terbangun sistem dan tatanan kehidupan bersama yang adil dan makmur dalam berbagai skala kehidupan.

Namun, Kemerdekaan 100% yang impikan oleh rakyat Indonesia saat ini hanya sampai didepan pintu gerbang nusantara. Sama halnya yang dirasakan oleh kaum petani saat ini, terkhusus di kabupaten Sinjai, provinsi Sulawesi Selatan.

Disisi lain, jumlah petani yang kian hari menyusut drastis, lalu pengurangan itu pun sejalan dengan berkurangnya lahan, karena lahan pertanian dirampas oleh mereka para kaum rakus yang mengatasnamakan dirinya pelindung, dari kestabilan ekonomi rakyat.

Kaum rakus ini akrabnya disebut petani berdasi yang tak pernah kenal lumpur, cangkul dan kerbau sejarah menamainya feodalisme, namun kini petani inilah yang kini menjadi penguasa lahan, mereka juga menguasai tenaga orang lain untuk dijadikan buruh lahan milik mereka yang dirampasnya.

Sadar tidak, kalau petani berdasi inilah yang kemudian akan mencuri tanah-tanah orang kecil secara terus-menerus tanpa kenal bahasa kasihan. Sadar tidak, kini artinya masalah petani bukan cuma sekedar kemarau, modal dan hama, namun juga ada petani berdasi yang hidup karena ditopang oleh rakyat kecil.


Apakah kalian masih sadar, kalau hari esok petani-petani ini akan jadi buruh dilahan mereka sendiri, jadi budak tuan feodal. Karena itu, abaikanlah debat soal pilkada, pilcaleg, pilgub dan pil-pil lainnya, serta segala macam yang tak berguna, sebab kelak hanya dapat membuat kesengsaraan besar bagi petani.

Lupakanlah dan berusahalah merdeka diatas kaki kalian sendiri para buruh dan tani, sebab pemimpin-pemimpin besar hari ini dengan mulut busuknya yang hanya pandai menebar wacana pembodohan, dan menanam kebusukan, itulah iblis musuh para manusia yang sadar akan kehidupan, yang senantiasa mengimingi dunia yang berwujud taman-taman surga

Abaikan pulalah soal sekelompok mahasiswa yang isi kepalanya hanya berisi krikil-krikil dangkal, ricuh tak bernuangsa perjuangan.

Mari ngopi ke petani, sadarkan mereka kalau tanah-tanah itu akan dirampas para kaum bejat berdasi, dan sadarkan juga kalau persatuan adalah awal tumbuhnya benih-benih subur kemerdekaan.

Author: Syukri
Tweet Share Share Share Share Share

OPINI --- Karena gagal paham, saya ingin tahu, untuk itu, belajar adalah solusinya. Guna mengelabui kebodohan, maka ilmu pengetahuan itu diharuskan. Bahkan sejarah dunia adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan. Dipelajari di setiap ruang dan segala waktu. Hingga akhirnya ilmu pengetahuan menjadi begitu penting, bahkan terasa mutlak tuk digapai.

Pengetahuan dapat diraih lewat berbagai cara terutama pendidikan formal, walau pengetahuan yang diraih dari bangku formal tak menjamin kedamaian dan ketenangan. Tapi pengetahuan telah menjadi keharusan pada tiap-tiap insan. Meski ilmu pengetahuan di negeri ini kurang lebih sisa-sisa peninggalan Eropa seperti digambarkan Pram dalam berbagai karyanya, namun itu tetap mesti kita pelajari.

Lingkungan menciptakan isu bahwa orang tak boleh bodoh, atau semua manusia harus pandai. Oleh karena itu, dibuatkan sekolah atau pendidikan formal. Seolah pendidikan formal adalah parameter kesejahteraan rakyat.

Dari berbagai inspirasi tersebut akhirnya memicu para generasi tuk masuk ke dalam satu sistem kapital yang belakangan disebut pendidikan gratis. Beragam warna terlibat dengan tujuan yang bermacam-macam, namun didominasi watak pekerja, tentunya.

Kerja adalah upaya manusia tuk menghasilkan, agar dapat makan dan bertahan hidup. Tapi bagaimana dunia kerja dalam persepsi kaum muda hari ini?. Tentu tak lepas dari negara, sebab kita hidup dalam negara yang secara administratif disebut Indonesia.

Kalau Pramoedya Ananta Toer menilai, pekerjaan yang paling baik adalah tanpa bertentangan dengan nurani, atau pekerjaan yang di dalamnya kemerdekaan tetap dinikmati, “Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri” katanya dengan jelas dalam tetralogi Bumi Manusia.

Bagi Pram, kerja merupakan salah satu keharusan yang mesti dilakukan manusia, tapi ia juga mencela kerja-kerja yang bertentangan dengan kemanusiaan. “Mendapat upah kerena menyenangkan orang lain yang tidak punya persangkutan dengan kata hati sendiri, kan itu dalam seni namanya pelacuran?” jelasnya.

Tentunya pandangan tersebut menuai kontroversi bagi mereka yang tersinggung, atau mereka yang larut dalam jebakan sistem dan tak mampu bangkit menentang penindasan dalam bentuk yang paling tak kasat mata serta tak langsung berefek.

Negeri ini nyaris didominasi orang-orang pintar, tapi tak punya nyali. Pintar karena mengetahui hampir semua hal, tapi ciut mengungkap fakta-fakta yang ditemuinya bila bertentangan dengan penguasa. Dan itu merupakan kegagalan ilmu pengetahuan, sebab terbungkam oleh intervensi lingkungan.

Seharusnya, orang-orang yang pandai, cerdas, genius atau dengan sebutan lain harus punya keberanian. Seharusnya kita punya prinsip, berani tahu, berani berbuat dan siap bertanggung jawab. Namun sejauh ini, konsep demikian masih sebatas ilusi. Hal itu terjadi, bukan tanpa alasan. Tetapi justru tak pernah kehabisan alasan, mulai dari ekonomi, sosial dan budaya hingga alasan yang paling terpaksa harus dirasionalkan.

Meskipun sangat dijamin oleh negara dalam konstitusi Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 Pasal 31 ayat (3) dan (4), menegaskan bahwa pemerintah memiliki kewajiban untuk mengusahakan penyelenggaraan pengajaran nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dengan memprioritaskan anggaran sekurang-kurangnya 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Negara benar telah menjamin, tetapi apakah faktanya juga nyata adanya?. Di kampus misalnya, yang semula diharapkan menjadi mesin pencetak Intelligence Quotient (IQ). Tapi faktanya berbagai kebijakan mendiskriminasi rakyat kecil, kemiskinan meningkat, koruptor dan sebagainya terjadi begitu saja, kampus diam saja. Atau karena sudah banyak tenaga pengajar yang melepas esensinya dan berubah jadi politisi?. Mungkin jawbnya ada di atas sana, seperti lagu Ebiet G Ade.

Jika kampus tak lagi menjamin kecerdasan, terlebih peka pada kondisi sosial. Disebabkan karena tenaga pengajarnya tak lagi netral, gagasan-gagasannya sudah dirasuki watak politikus, atau pemikirannya sudah terhegemoni uang, maka hancurlah negeri ini dalam jangka waktu yang tak ditentukan.

Belum lagi, jutaan mahasiswa yang selesai setiap saat. tak ada pekerjaan yang disiapkan pemerintah. mau kemana mereka?. Silahkan jawab pemirsa.

Bila itu dibiarkan maka wajar saja, para aktivis yang dulunya tak kenal senior atau kerabat, asal bersalah diteriaki. Kini menjelma wujud dan justru mendukung perlakuan-perlakuan elit yang memiskinkan itu, bahkan justru mereka pun kadang menjadi pelaku, dengan mengatas namakan perut. BULL—SHITT!!!

Sejauh yang saya amati dan bisa dimengerti, nilai manusia bukanlah pada siapa yang cerdas, tapi siapa yang bisa mempertahankan kejujurannya, selebihnya adalah mereka yang punya setumpuk uang kertas.

Lalu, apa yang bisa dibanggakan kecuali dua hal, pertama senyum termanis desain Tuhan dari sosok misterius di kedai kopi beberapa malam lalu, kedua aroma kopi yang senantiasa mengajak betah duduk lama-lama bersama pekatnya ampas.

Author: Burhan SJ
Tweet Share Share Share Share Share

OPINI --- Dana Desa adalah dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang diperuntukkan bagi Desa dan Desa Adat yang ditransfer melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota dan digunakan  untuk membiayai penyelenggaran pemerintahan, pembangunan, serta pemberdayaan masyarakat, dan kemasyarakatan.

Fokus penting dari penyaluran dana ini lebih terkait pada implementasi pengalokasian Dana Desa agar bisa sesempurna gagasan para inisiatornya.

Skenario awal Dana Desa ini diberikan dengan mengganti program pemerintah yang dulunya disebut PNPM, namun dengan berlakunya Dana Desa ini, dapat menutup kesempatan beberapa pihak asing untuk menyalurkan dana ke daerah di  Indonesia dengan program-program yang  sebenarnya juga dapat menjadi  pemicu pembangunan daerah.

Sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, Pemerintah mengalokasikan Dana Desa, melalui mekanisme transfer kepada Kabupaten/Kota.

Berdasarkan alokasi dana tersebut, maka tiap Kabupaten/kota mengalokasikannya kepada setiap desa berdasarkan jumlah desa dengan  memperhatikan jumlah penduduk (30%), luas  wilayah (20%), dan angka kemiskinan (50%).

Hasil perhitungan tersebut disesuaikan juga dengan tingkat kesulitan geografis masing-masing desa. Alokasi anggaran sebagaimana dimaksud diatas, bersumber dari Belanja Pusat dengan mengefektifkan program yang berbasis desa secara merata dan berkeadilan.

Besaran alokasi anggaran yang peruntukannya  langsung ke desa ditentukan 10% (sepuluh perseratus) dari dan di luar dana Transfer Daerah (on top) secara bertahap.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa Yang Bersumber dari APBN, dengan luasnya lingkup kewenangan Desa dan dalam rangka mengoptimalkan penggunaan  Dana  Desa, maka penggunaan Dana Desa  diprioritaskan untuk membiayai pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa. Penetapan prioritas penggunaan dana tersebut tetap sejalan  dengan kewenangan yang menjadi tanggungjawab desa.

Segelintir orang berasumsi bahwa mungkin masih terjadi ketimpangan dan penyalahgunaan dalam alokasi dana desa. Guna meminimalisasi penyeleweangan ditingkat desa, diperlukan mekanisme kontrol dari masyarakat untuk mengawasi penggunaan dana desa ini, agar dana tersebut sesuai dengan peruntukannya meningkatkan pembangunan di desa.

Pemerintahan desa dituntut agar lebih akuntabel, yang didukung dengan sistem pengawasan dan keseimbangan antara pemerintah desa dan lembaga desa, terutama Badan Permusyawaratan Desa (BPD), dalam kedudukannya mempunyai fungsi penting dalam menyiapkan kebijakan pemerintahan desa bersama kepala desa.

Adanya kewenangan tambahan bagi BPD untuk melakukan pengawasan terhadap kinerja kepala desa, harus dijalankan sungguh-sungguh sebagai representasi dari masyarakat desa, khususnya dalam hal penggunaan keuangan desa. Dalam pengalokasian dana desa tersebut diperlukan fungsi BPD sebagai pengawas agar dana tersebut tersalurkan untuk kepentingan pembangunan di desa dan pemberdayaan di Desa.

Pengawasan yang dijalankan oleh BPD terhadap pemakaian anggaran desa dilakukan dengan melihat rencana awal program dengan realisasi pelaksanaannya. Kesesuaian antara rencana program dengan realisasi program dan pelaksanaannya serta besarnya dana yang digunakan dalam pembiayaannya adalah ukuran yang dijadikan patokan BPD dalam melakukan pengawasan. Selama pelaksanaan program pemerintah dan pemakaian dana desa sesuai dengan rencana, maka BPD mengangapnya tidak menjadi masalah.

Di sisi lain, transparansi penggunaan dana desa harus benar-benar dijalankan. Dengan adanya UU No. 14 tahun 2008, tentang Keterbukaan Informasi Publik, setiap orang berhak untuk meminta informasi terkait penggunaan anggaran, salah satunya penggunaan dana desa.

Dengan demikian, penggunaan dana desa bisa diawasi oleh masyarakat, agar dana desa tersebut benar-benar digunakan untuk meningkatkan pelayanan publik di desa. Dan bila memungkinkan perlu juga dibuat posko-posko pengaduan di setiap desa.

Dengan adanya posko pengaduan tersebut, masyarakat bisa ikut mengawasi dana desa. Jika ada penyimpangan bisa langsung melaporkannya melalui posko tersebut.

Pemerintah juga perlu melakukan pembinaan serta pengawasan jalannya pemerintahan di desa melalui pendelegasian pembinaan dan pengawasannya kepada pemerintah provinsi atau pemerintah kabupaten/kota.

Pembinaan dan pengawasan tersebut bisa dilakukan dengan cara melakukan pengawasan dalam penetapan anggaran, evaluasi anggaran dan pertanggungjawaban anggaran, melakukan pendampingan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan pembangunan desa, melakukan peningkatan kapasitas kepala desa, perangkat desa, dan BPD serta memberikan sanksi atas penyimpangan yang dilakukan oleh kepala desa.

Karena dana yang dikelola begitu besar, maka penting bagi kepala desa untuk membekali diri dengan keterampilan mengelola keuangan, membuat pembukuan yang baik, akuntabel dan transparan.

Meskipun penggunaan anggaran dana desa mendapat kontrol yang ketat dari masyarakat, tidak semestinya kepala desa dan perangkat desa merasa takut menggunakan dana desa. Sebab, aparat penegak hukum (Kepolisian dan Kejaksaan) tidak akan melakukan kriminalisasi terhadap kepala desa yang memakai dana desa bila dana desa itu dipakai dan disalurkan dengan benar.

Oleh karena itu, kepala desa, perangkat desa, lembaga yang ada di desa, serta masyakat desa harus menyadari bahwa saatnya desa membangun, bukan lagi membangun desa.

Akhirnya, kita semua berharap, kucuran dana desa ini mampu dimanfaatkan sebaik-baiknya guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa di seluruh tanah air, khususnya masyarakat pedesaan di Kabupaten Sinjai Provinsi Sulawesi Selatan.

Seperti lirik lagu Iwan Fals, “Desa harus jadi kekuatan ekonomi agar warganya tak hijrah ke kota. Sepinya desa adalah modal utama untuk bekerja dan mengembangkan diri. Walau lahan sudah menjadi milik kota, bukan berarti desa lemah tak berdaya. Desa adalah kekuatan sejati. Negara harus berpihak pada para petani”.

Penulis : Syukri
Powered by Blogger.